HANTU YANG BERSEMAYAM DALAM KOTAK COKLAT BEKAS KALENG BISKUIT

Kepada isi kotak coklat bekas kaleng biskuit yang Ia simpan di bawah lemari belajarnya, Ia mengirimi  sebuah surat.

“Dear Kotak coklat bekas kaleng biskuit,

Entah berapa kali aku sudah membuka kamu, 5 atau 8 kali. maafkan jika aku lupa. Karena berapa kalipun diingatkan, aku akan mengulangi kelupaan itu. kamu tahu itu.

Aku ingin berterimakasih, sekaligus ingin memaki. memaki kamu, memaki aku, memaki waktu.

Kamu banyak mengingatkan aku dengan beberapa hantu. hantu baik, hantu bodoh, hantu menyeramkan dan beberapa hantu yang harus aku sumpah serapahi keberadaannya.

Hantu-hantu yang bersemayam di dalam kepalaku itu, begitu saja keluar, tiba-tiba, tanpa aku bisa menolaknya. Hantu yang tidak memiliki ruang, hantu yang tidak mengenal batasan waktu dan tempat, hantu yang selalu suka bergentayangan di dalam kepala. Jelas, buatku itu lebih seram daripada hantu wanita berambut panjang yang pernah ku lihat menampakan diri di salah satu acara mistis di televisi. karena dengan mudahnya, mereka akan membuatmu merasa ingin mati cepat dengan cara yang sangat lambat. sakit.

Dear Kotak coklat bekas kaleng biskuit,

Suatu hari mungkin aku akan membuangmu. bisa saja besok, bisa saja lusa, atau besoknya lagi, atau lusanya lagi, atau lusanya lagi atau lusanya lagi, atau…

Apa aku harus punya satu lagi kotak coklat bekas kaleng biskuit yang baru, agar tidak perlu repot-repot membuangmu?

huh.. Sebentar,

Sepertinya lebih baik aku menutup mulutmu rapat-rapat dengan solasi hitam yang tebal, menyimpanmu lebih dalam agar tak sengaja dengan mudah tertendang kakiku yang sedang belajar.

Ya, memang.

Hantu itu tidak bisa mati. Setidaknya, dengan cara ini, mungkin, aku tidak akan mudah mati.”

Ia meletakan pena, melipat rapi kertas yang ia tulis tadi, dan menyimpannya di dalam Kotak coklat bekas kaleng biskuit.

 

IM DIVERGENT

24 tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang anak kecil yang ceria. Ia akan selalu semangat menuju meja belajarnya setiap pukul 19:00. Membawa 2 batang pensil dan 1 buah buku tulis. Berkutat dengan hal yang tidak seharusnya dia kerjakan dan mungkin sebenarnya ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan, saat itu ia hanya senang belajar saja. Mengenal huruf dan angka yang Ayahnya tulis besar-besar di atas meja belajarnya. Ia akan sangat gembira ketika bisa menjawab setiap pertanyaan dari sang Ayah tentang huruf dan angka-angka tersebut.

(more…)

(MENCOBA) MENJADI YOUTUBER

Saya pernah membaca sebuah mural di depan salah satu gedung tinggi di daerah Jakarta yang bertuliskan “Totalitas tanpa batas, bikin hidup jadi terbatas”.

Hidup saya terlalu hectic dengan pekerjaan akhir-akhir ini. Hidup saya seperti terbatasi, sampai saya lupa pernah punya blog yang saya harus isi.

Hhh~

Menjadi PSK (Pekerja Teks Komersil) ternyata tidak selalu enak, mungkin semua hal di dunia ini memang seperti itu. bahkan makanan yang enak sekali pun akan terasa tidak enak alias jika harus membayar dengan harga mahal untuk sebuah makanan.

Jika harganya mahal, saya akan tetap berkata makanan itu tidak enak. buat apa makan mahal-mahal kalo pas pup hasilnya gitu-gitu juga~

Lalu saya hendak coba sedikit melepas ‘lelah’ dari kata ‘totalitas tanpa batas’ tersebut, tidak sepenuhnya memang.  Karena bagaimanapun, tanggung jawab adalah beban yang harus ditanggung jawabi dengan harus dan mesti.

Jadi, untuk sedikit bernafas dari dunia tulis menulis yang setiap hari harus saya jalani, sayapun mencoba untuk mencari hal baru yang bisa saya jalani.

Saya (mencoba) menjadi Yutuber. (more…)

MY CONFESSIONS

Pada tanggal 6 November 2016 kemarin, saya menulis tentang project #BayarSayaDenganKebaikan.

Sebuah projekan pribadi saya, dimana saya akan membuatkan satu buah gambar kepada setiap orang yang menceritakan kepada saya –Lewat aplikasi LINE atau Email– satu kebaikan yang dia dilakukan.

Projekan tersebut saya buat karena beberapa hal yang menjadi ‘keresahan’ saya ketika melihat situasi di sekitar saya—entah di dunia nyata atau di dunia maya— yang hampir setiap harinya dipenuhi dengan ‘kebencian’ atau ‘keburukan’, dan parahnya justru hal tersebut yang gampang menjadi viral. Lalu kemudian saya terfikirkan satu hal “Jika sebuah keburukan bisa mudah tersebar, kenapa kebaikan gak bisa?”

Karena hal tulah saya memutuskan untuk mengadakan projekan #BayarSayaDenganKebaikan ini. (more…)