Jika kamu berfikir makan bubur ayam pakai sumpit adalah hal yang sulit, itu memang benar.

tapi ternyata ada lagi hal yang lebih sulit, yaitu menjadi ibu-ibu.

Gak percaya?

Buat yang perempuan, segeralah jadi ibu-ibu.

Dan buat yang cowok, kalo mau coba jadi ibu-ibu… ya boleh juga sih, terserah~

Kenapa saya bilang bahwa menjadi ibu-ibu adalah hal yang sulit? Karena, saya baru saja belajar menjadi ibu-ibu.

jadi begini…

SENIN SORE, 18 Januari 2016

Ibu saya telepon,

“Ky, nanti pulang kerja langsung ke rumah sakit aja ya. Mama lagi nunggu dapet kamar dulu nih.”

“Lah, daritadi belum dapet kamar juga Ma?”

“Iya belum, katanya nanti abis magrib baru dapet”

“Yaudah, nanti Ky langsung kesana deh~ mama sama siap…”

*tuuuuuut…*

Kebiasaan buruk ibu saya adalah suka mematikan telepon tanpa bilang-bilang, mungkin ibu saya termasuk ke dalam anggota KOBUSAPU alias komunitas ibu-ibu sayang pulsa.

Apaan~

Itu tadi Ibu saya menelepon dari rumah sakit.

Siapa yang sakit?

Yap, yang sakit adalah ibu saya sendiri. dia yang sakit tapi dia juga yang mengurusi ruangan rawat inap (buat dia sendiri). Hehe~ ibu saya memang seseorang dengan sosok yang mandiri. kalau makan bakso saja nih, bakso semangkok dia makan sendirian, gak perlu bantuan orang lain. hebat.

Sepulang kerja saya langsung menuju ke rumah sakit.

19:30

Saya sampai di rumah sakit. saya menemukan ibu dan 2 adik saya sedang duduk menunggu di depan ruang administrasi rawat inap dengan tampang kusam dan lemas seperti orang belum makan. Setelah saya tanya apakah mereka sudah makan? Eh Ternyata memang belum.

pantesan aje mukanya pada lemes bangat kayak bakwan magrib~~

Katanya mereka sudah menunggu dari jam 1 siang dan sampai malam begini belum juga mendapatkan kamar untuk rawat inap dan mereka juga belum sempat makan dari siang itu. acian~

Akhirnya saya bilang ke mereka untuk membeli makanan dan saya yang gantian menunggu informasi kamar inap.

….

23:10

Kami belum juga mendapatkan informasi mengenai kamar rawat inap yang kosong. Sampai akhirnya saya tidak sabar. saya dan ibu saya mencoba bertanya kepada ibu-ibu admin di dalam ruangan tersebut.

“Bu, gimana kamar buat Ibu saya Bu, apakah sudah ada?”

“Yah belum ada yang kosong juga Mas. Ngg… atau saya kasih pilihan untuk menempati kamar VIP saja gimana?”

Mendengar itu, seketika muncul bayangan angka-angka berupa rupiah berterbangan di atas kepala saya.

“Ma, adanya kamar VIP, gimana?” bisik saya ke Ibu.

“Kalo kamar VIP bayar ga Ky?”

pertanyaan ibu saya tadi sangat ingin sekali saya jawab dengan kalimat “MENURUT NGANAAAA!??!!” tapi saya urungkan karena takut durhaka.

Saya kembali ke Ibu admin, “Maaf Bu, Kan Ibu saya pasien BPJS nih ya Bu, itu kalau menggunakan kamar VIP kena biaya lagi atau tidak ya Bu?”

mungkin si Ibu admin itu juga pengin sekali berkata “MENURUT NGANAAA!??!!” kepada saya, tapi ia urungkan juga.

“Iya Mas, ada biaya tambahan sebesar Rp. (sekian) untuk setiap 1 hari dan untuk saat ini juga harus ada jaminan uang dahulu sejumlah Rp. (sekian), bagaimana? Mau?”

Akhirnya saya putuskan untuk meng-iya-kan pertanyaan Ibu admin tersebut. Karena saya pikir, ini sudah malam dan menurut jadwal dari Dokternya Ibu saya, besok Ibu saya harus segera dilakukan proses operasi.

23:25

Ibu saya menempati kamar VIP DR. SOE(xxxxx) Lt. 2 Kamar-the lucky number-13. Layaknya Kamar VIP, kamarnya bagus, kamar mandi dalam, ada televisi 32inch dan AC nya juga. Dan kata Ibu saya AC-nya dingin banget.

Yaiyalah, kalo mau yang panas mah, noh… matahari~

Malam itu, Kamipun sekeluarga menginap di Rumah sakit.

SELASA, 19 JANUARI 2016

12:10

Ibu saya dibawa ke ruang operasi, saya menunggu dengan ditemani 2 adik saya dan juga satu orang saudara dari ibu saya yang sudah saya anggap sebagai saudara saya juga.

Waktu berjalan, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam. Yang awalnya saya gelisah menunggu di depan ruang operasi karena takut kalau-kalau operasi ibu saya ada kendala, sampai akhirnya saya bosan untuk gelisah.

PAK DOKTER, KOK LAMA BANGET YA PAK? YAWLAA~~~

7 JAM 5 MENIT KEMUDIAN

19:15

Ibu saya keluar juga dari ruang operasi, saya lega karena tidak ada kendala apa-apa. Tapi melihat ibu saya yang lemas dan diam saja saya jadi sedikit khawatir.

Di dalam kamar, Ibu saya diam saja, saya coba bertanya

“Mama pusing ga Ma’?”

Ibu saya Cuma diam, tapi matanya terbuka. Saya jadi khawatir.

Saya tanya lagi,

“Ma, mau minum gak?”

Ibu saya masih diam, matanya setengah melotot. saya makin khawatir. tapi saya tidak menyerah, saya bertanya lagi

“Ma, berapa faktor persekutuan terbesar dari bilangan 8, 24 dan 64?”

Ibu saya langsung memejam, sepertinya ia berfikir ‘lebih baik tidur saja lah’.

Jpeg
mamarizky uwuwu~

Pasca operasi, untuk sementara Ibu saya tidak bisa bergerak secara leluasa dan belum bisa bangun dari tempat tidur, apalagi untuk main futsal, ibu saya belum sanggup.

Nah pada saat-saat itulah, saya sebagai anak pertama satu-satunya di keluarga ini bertanggung jawab akan semua hal.

Di malam hari, saya harus siap siaga jika ibu saya membangunkan saya. biasanya karena ibu saya ingin buang air. karena Ibu saya belum bisa beranjak dari tempat tidur, maka ia buang air di tempat tidur. Jadi, saya yang menyiapkan Pispot portable-nya, membersihkan sisa buang airnya Ibu (atau dalam bahasa Mandarin disebutnya ‘nyebokin’), dan membuang hasil fermentasi ibu saya tersebut ke kamar mandi. Semua saya lakukan dalam keadaan mengantuk. Dan dalam semalam, saya bisa melakukan itu 2 sampai 3 kali.

Pagi harinya, saya harus membelikan sarapan untuk 2 adik saya yang masih tertidur pulas, untuk saya sendiri dan untuk Ibu saya. Sebenarnya Ibu saya dapat makanan dari Rumah Sakit setiap hari, tapi Ibu saya tidak mau, katanya makanan rumah sakit nggak enak, padahal pas saya cobain sih.. Iya bener, rasanya adem, nggak enak.

Sebelum saya sarapan, terlebih dahulu saya menyuapi ibu, memberinya minum dan membersihkan badannya dari keringat-keringat karena efek tidak mandi-mandi. Setelah selesai mengurusi Ibu, saya mengurusi adik saya yang masih kecil. Menyiapkan sarapannya dan setelah makan, biasanya menyuruh dia mandi, meng-handuki dan menggantikan bajunya.

Saya melakukan itu selama 3 hari (Rabu sampai Jum’at), pada 3 hari tersebut bisa dibilang waktu istirahat saya dalam sehari (24 Jam) Cuma sekitar 3-5 jam. Dan pada hari Jum’atnya (terpaksa) saya harus masuk kerja karena saya sudah izin selama 2 hari. atas nama tanggung jawab pekerjaan.

Saya meninggalkan ibu dan 2 adik saya di rumah sakit.

JUM’AT, 22 JANUARI 2016

19:15

Ibu saya pulang ke rumah dengan diantar oleh mobil dengan saudara saya, sementara saya masih dalam perjalanan pulang dari kantor.

Dan Malam itu, saya tidur dengan Ibu di kamar saya, sementara 2 adik saya tidur di ruang tamu. Masih seperti kemarin, saya belum bisa tidur nyenyak karena saya harus terbangun tengah malam untuk sekedar memijati kepala ibu saya yang pusing atau mengantarnya ke kamar mandi, kali ini ibu saya sudah sanggup bergerak, tapi masih tetap belum bisa diajak main futsal.

SABTU, 23 JANUARI 2016

Saya bangun pagi sekali, jam 6 pagi. Tapi saya masih ngantuk, jadi saya tidur lagi. Akhirnya saya bangun jam 7.

Mengingat keadaan rumah yang kotor dan berantakan karena ditinggal selama 5 hari, saya berinisiatif untuk membersihkan rumah yang biasanya dilakukan oleh ibu saya setiap hari.

Pagi sekali saya menyiapkan sarapan, minum dan obat untuk ibu saya, setelah itu saya menyapu dan mengepel rumah, kemudian saya mencuci piring dan terakhir, untuk pertama kalinya dalam hidup saya adalah mencuci baju. Iya, selama ini baju kotor keluarga saya masih ibu yang nyuciin. Soalnya saya tidak bisa menggunakan mesin cuci. Saya ndeso, Cry~

Dan pengalaman pertama mencuci harus di isi dengan pakaian kotor selama 5 hari. Huft!

Karena saya tidak bisa, sayapun bertanya caranya kepada Ibu saya, ibu sayapun memberikan tutorial mencuci baju yang baik dan benar sesuai konstitusi pemerintah daerah. dan mulailah saya mencuci, setelah itu membilas, mengeringkan dan menjemur. Itu saya lakukan hampir 2 jam.

Setelah melakukan itu semua semua badan saya berasa pegal, pinggang saya berasa pindah posisi ke pundak, dan pergelangan tangan dan jari saya terasa sakit karena harus memeras celana-celana levis biadab itu pada saat proses membilas tadi.

Setelah selesai mencuci, masih ada hal lagi yang harus saya lakukan. Ya, memasak nasi dan menyiapkan makan siang untuk Ibu dan adik-adik saya.

Dan jika ada yang memberikan pertanyaan

“Apakah kamu capek?”

Saya sangat ingin menjawab

“MENURUT NGANAAAA?!?!!!!”

MINGGU, 24 JANUARI 2016

01: 45

Saya merenung.

Selama 4 hari saya melakukan semua hal itu, dan badan saya sudah berasa lemas dan pegal-pegal. Baru 4 hari, bagaimana Ibu saya yang melakukannya setiap hari?

Saya mengingat moment waktu saya menyuapi ibu, membersihkan sisa kotorannya, membersihkan badannya, memakaikannya baju dan lain-lain. dulu, waktu masih kecil, ibu saya juga melakukan itu semua, malah bukan Cuma 4 hari, tapi bertahun-tahun. Sampai saya sanggup melakukannya sendiri.

Dan setiap hari ibu saya selalu bangun pagi-pagi disaat saya masih tidur untuk menyiapkan sarapan buat saya sebelum berangkat kerja, memasak, menyapu, mencuci piring, mencuci baju, dll. tidak Cuma 4 hari tapi bertahun-tahun.

Saya berfikir. Saya sering mengeluh masakan Ibu tidak enak, saya mengganti pakaian sesuka hati saya, sehabis makan saya sering meninggalkan piring kotor begitu saja di meja makan dan hal-hal lain, yang ternyata ketika saya lakukan (Cuma 4 hari saja), rasa capeknya seperti habis gali sumur 5 meter pakai sendok nyam-nyam.

Dan berfikir tentang itu saya jadi merasa… ternyata selama ini, saya tak lebih hanya seorang laki-laki sombong yang lemah. Yang bahkan kalah oleh seorang wanita berumur 45 tahun.

Saya kalah telak.

04: 30

Saya ingin menutup tulisan panjang ini dengan…

Pada tulisan ini, saya tidak bermaksud dengan menceritakan hal ini agar saya di-cap sebagai anak yang berbakti kepada ibu, tidak sama sekali. Bahkan jika boleh jujur, hampir setiap hari (bahkan sampai saat ini), selalu saja saya tidak bisa menahan diri untuk tidak melawan perintah ibu saya. Saya sering bertengkar dengan ibu saya, saya sering mengeluh karena ibu jarang masak dengan alasan capek sehabis mencuci dan lain-lain.

saya masih sangat sangat jauh dengan sebutan anak yang berbakti.

Tulisan ini hanya sebagai perenungan untuk saya pribadi, bahwa selama ini saya ternyata banyak melakukan hal yang salah kepada ibu dan bahkan tidak menutup kemungkinan kalau saya sering membuat ibu sedih dan marah atau bahkan kecewa kepada saya, yang beliau tidak pernah ungkapkan atau keluhkan.

Dan dari pengalaman saya selama 4 hari menggantikan tugas-tugas seorang Ibu tadi, sayapun menyimpulkan bahwa…

Yap, menjadi ibu-ibu adalah hal yang sangat sulit.

Semoga sebagai anak, saya bisa lebih menghargai dan menghormati Orang tua saya.

“Ma, Terima kasih banyak atas semuanya~”

:’)

Regards

-anaknya mamarizky-

32 comments on “MENJADI IBU ITU~~”

  1. Gue lemah kalo baca tentang ibu. 🙁
    Anaknya Mama Rizky udah cocok nih jadi ibu-ibu. Ehehe.

    Gue jadi inget pas ditinggal orangtua sebulan ke kampung. Ya, gue sebulan kudu jadi ibu-ibu. Sulit. Banget. Kayak ibu-ibu lagi sakit disuruh maen futsal pake daster. Halah

  2. Sedih bangat ya pas tau orangtua sakit tuh, apa lagi kalo ibu yang sakit kerasa bangat:((

    Cepet sembuh ya mamahnya bangkay^^

    Dan fagh yuh gue ngakak pas lu nanya bilangan faktor persekutuan sama kyk nguras sumur 5 meter pake sendok nyam2 haha hahaha.

    Hebat lu bang, bertanggung jawab :))

  3. Aku sering baca cerita tentang mamanya Akang dan selalu salut sama beliau. Akang ih meni juara bikin perasaan naik-turun kayak di kora-kora. Kalimat-kalimat awal di paragraf sedih, terus ujung-ujungnya malah ditaburin punchline kayak si Mama belum bia diajakin futsal, bakwan magrib, MENURUT NGANA, dan sebagainya. :’))

    Semoga mamanya Akang lekas membaik ya sakitnya. Biar bisa diajak futsal juga. Ikut Liga Champion kalau perlu. Aku padamu mamarizky~ :’)

  4. salam kenal bang, aku baru nyampo disini.

    sedih bang, tapi ketawa, lanjut baca sedih lagi, sampe menurut ngana ketawa lagi. hih!
    mamanya sekarang udah baikan bang? lekas membaik lah bang biar bisa futsal bareng, ngadu lah sama tim saya. eh 🙁

  5. Hi Rizky, nggak semua anak bisa membalas kasih sayang ibu yang diberikan anaknya. Masih aja ada yang kurang untuk membalas budi kasih sayang ibu. Dan semoga ibu kamu cepet sembuh dan sehat terus ya Rizky. O ya salam kenal sebelumnya. 🙂

Leave a Reply to Arie je Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *