Ehem… (8x)

Beberapa hari lalu, dunia internet dipenuhi oleh konten berupa sumpah serapah, jokes satir, atau artikel-artikel ‘keren’ yang dibuat oleh para netizen budiman. Yang di mana semuanya hampir membahas satu nama, yaitu ‘Karin Novilda’ atau yang dikenal dengan nama ‘Awkarin’. Cewek berusia 19 tahun yang  membuat satu video blog a.k.a vlog tentang putusnya ia dengan pacarnya yang berusia 16 tahun bernama Gaga—yang katanya putus tepat di hari ulang tahun si pacar and I really don’t care, absolutely–. Yang hubungan tersebut sudah berjalan cukup lama. lama sekali, yaitu 5 bulan.

Kemudian hal itu menjadi viral, semua orang membahas dan membuat konten tentang Awkarin dan bahkan sempat juga menjadi Trending Topic di twitter.

Aw.. Karin Keren!

Menyedihkan? Mungkin bagi fans dari Awkarin (yang sebagian siswa SMP-SMA, bahkan SD Mungkin) itu adalah sebuah kesedihan hakiki, dimana sebuah hubungan yang mereka sering sebut ‘aaakk #RelationshipGoals banget~’ itu harus berakhir dengan DRAMAtis. Yap, DRAMA yang perlu ditulis dengan menekan capslock selama 4 jam. dengan tumit tentunya.

Saya sendiri (iya saya memang sendiri) Setelah menonton video tersebut sempat meneteskan air mata, tetapi lewat hidung, atau boleh disebut air hidung, atau jika lebih dimanusiawikan sebut saja pilek. Karena… saya tidak tahu dimana bagian sedihnya. Sumpah. Justru lebih sedih ketika saya beli mie instan di warung tapi harganya 4000 satu bungkus.

Kampreto memang si ibu warung, dengar-dengar dia sudah 15 kali umroh. Huh!

Tetapi pada tulisan ini, saya tidak ingin membahas tentang kandasnya hubungan itu lebih lanjut. Karena saya merasa tidak punya kapabilitas atau hak untuk mengomentari perasaan seseorang yang ditinggal oleh kekasih tercinta lovely bunny sweety lala po~ itu. Hanya saja saya sebagai seorang pengguna internet dan salah satu follower di IG-nya Awkarin (saya follow sudah lama, karena Feednya bagus) merasakan sebuah kegelisahan, yang saya rasa kegelisahan ini harus diungkapkan dalam bentuk tulisan–yang tidak penting-penting amat ini–. karena seperti pada awal saya berniat terjun ke dunia blogging atau tulis menulis. Bagi saya menulis adalah menjawab sebuah kegelisahan.  haseek~

Ehem… (8x)

Sebelumnya jika boleh saya bercerita sedikit, kemarin tanggal 21 Juli 2016 saya berkunjung ke kantor kitabisa.com dalam rangka ingin berkolaborasi dengan satu orang hebat yang podcastnya saya suka dengarkan, yaitu Iqbal Hariadi; seorang penulis tumblr yang juga podcaster (saya tidak tahu sebutannya apa untuk seorang yang berkecimpung di dunia podcast) di ‘Subjective Podcast’, yang dimana saat itu saya dan si Kresnoadi; rekan saya di podcast IMAGINARY TALK— ingin mengajak Iqbal untuk bantu mengisi pendapat di podcast Imaginary Talk.

Dan pada kesempatan itu, kami bertiga membahas tentang kasus viralnya orang-orang seperti Awkarin tadi. Kami merasa ‘penyakit’ seperti ini harusnya tidak terus-terusan terjadi di ranah internet yang seperti kita ketahui, the power of internet itu jauh lebih besar dari pada otot dada Agung Hercules (entahlah saya bingung harus menganalogikannya dengan apa, dan yang kepikiran malah otot dada itu).

Seperti yang kita ketahui, belakangan ini dunia internet kerap dihebohkan dengan kasus-kasus seperti…

Oke saya tuliskan saja

  1. Laurentius Rando, dengan kasus keyboard mahal pemberian dari fansnya yang ia jual di forum Kaskus, yang berdampak kepada kemarahan netizen lain (termasuk sesama youtuber dan komunitas beatboxer), yang kemudian semua ke’jelek’an yang ia pernah buat disebar habis-habisan di internet, bahkan sampai Raditya Dika memutuskan untuk tidak menjadikan dia salah satu pemeran di filmnya. Cry~
  2. Younglexx dkk dengan lagu GGS (Ganteng Ganteng SWAG) yang mereka buat di Youtube dengan lirik-lirik explicit-anj-bangs-, lalu viral dan jadi berdampak negatif karena dicover atau ditiru oleh para followers/Subscribers mereka yang kebanyakan anak-anak kecil yang masih bau ketek baju seragam sekolah habis upacara. Cry~ (2)
  3. Awkarin dengan… ya kalian tahu sendiri lah. Cry~ (3)

KANKER!

Adalah istilah untuk orang-orang yang memberikan a bad influence (like I told you above) di dunia maya, tapi viral dan terkenal. ‘Penyakit’ yang menyebar cepat, secepat saya menghabiskan popmi yang sudah dingin.

Dan yang menjadi point dari kegelisahan kami bertiga adalah, kenapa ‘Kanker’ itu sebegitu mudahnya punya ‘tempat’ di tab following para netizen? Dan kebanyakan korbannya adalah anak-anak kecil yang masih banyak tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk ditiru?! Kenapa?!

Kemudian, dari perbincangan sekitar kurang lebih 3-4 jam tersebut, kami menemukan 2 poin utama yang sepertinya harus berusaha diubah oleh pengguna internet. whether you as a content creator or as a consumer di semua platform media sosial. (Dan tentunya 2 poin ini menyadarkan saya secara personal sebagai pembuat dan penikmat konten di social media juga).

Baiklah, saya coba jabarkan saja hal tersebut

IF YOU AS A CONTENT CREATOR.

Karena ‘kalian’ adalah orang-orang yang (rata-rata) memiliki followers yang besar di internet. bukankah sebaiknya kita atau kamu atau kalian, membuat konten-konten yang sifatnya positif, yang kiranya jika ditonton oleh followerssss (s nya harus banyak) kalian itu bisa berdampak baik juga untuk mereka. Atau minimal memberikan hiburan yang benar-benar menghibur secara literally, bukan menghibur dalam tanda kutip yang kiranya akan menjadi bahan nyinyiran para pengguna internet.

Anehnya, ketika ada yang memberikan saran tersebut, para The Lord Gorgeous Creator itu pasti akan menjawab dengan jawaban template seperti “gua gak mau jadi orang yang munafik, gua mau jadi diri sendiri, gua ya emang kayak gini orangnya, gua yang lo liat di dunia maya adalah diri gua sebenernya di dunia nyata. Kalo kalian gak suka yaa.. tinggal unfollow atau block aja, make it simple lah”.

YAA.. ENGGAK SE-SIMPLE ITU ABAAAAANGGGGG MPOOOOK~

Oke gini, perihal unfollow atau block, itu adalah perihal mudah like u said “make it simple aja lah” palelusimple itu. Oke, untuk orang-orang yang menggunakan internet yang sudah cukup bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk, Itu adalah hal yang bisa di lakukan. Tapi yang jadi concern-nya di sini adalah, bagaimana dengan penonton kalian (dalam hal ini) anak-anak yang masih kecil? yang kalau bangun tengah malam mau ke kamar mandi masih minta ditemani sama orang tuanya? Yang kalau habis pup masih teriak “MAAAAK UDAAAAAH MAAAK!!!? Bagaimana??

Saya tidak bisa membayangkan jika misalnya ada anak  kelas 4 SD, pulang sekolah, masih pakai seragam pramuka main ke warnet dan kemudian di internet mereka melihat konten-konten (yang para panutan mereka sajikan a.k.a yang harusnya mereka tidak lihat). kemudian setelah selesai menontonnya mereka langsung bergumam di dalam hati kecilnya “WIDIIIIH KEREN BANGET YA MEREKA, GUE JUGA MAU KAYAK MEREKA, GUE MAU JADI MEREKA, GUE HARUS JADI KAYAK MEREKA”. Terus ia keluar dari warnet dengan muka berbinar, pulang ke rumah dengan tekad kuat. Sampai rumah, Ia dimarahi sama ibunya karena pulang sekolah malah main bukannya langsung pulang. Dan ketika dimarahi sang Ibu, si anak menundukan kepala sedikit, kemudian tersenyum kecil seraya mengangkat kepala pelan-pelan, lalu tiba-tiba teriak “ADON GIFEFAK ADON ADON GIFEFAK! BIC! ADON GIFEFAK ADON ADON GIFEFAK! BIC!” sambil mengacungkan jari tengah.

GEMANA BANGGG KALO KAYAK GITU BANGGGG!!!!?

Serius, saya sedih beneran jika itu ada dan terjadi.

IF YOU AS A CONSUMER.

(Sejujurnya hal ini yang juga saya sedang coba benahi pada diri saya sendiri sebagai pengguna dan penikmat konten-konten di internet)

Sebagai Consumer atau penikmat karya para Creator. Ada satu pola pikir yang sepertinya harus kita ubah. Yaitu bahwa “tidak semua hal harus dan bisa kita komentari”. Karena sejatinya, kita (atau mungkin saya sendiri) tidak selalu punya kapabilitas untuk melakukan itu.

“Lah bang, ini kan Negara Demokrasi, Negara Merdeka, Negara dengan kebebasan berpendapat, Freedom of Speech, jadi kita bebas dong kalo mau ngasih pendapat?! GEMANASEH?!”

Iya benar, benar banget, jika hal yang kita komentari adalah hal yang berguna atau kamu memang punya kapabilitas disana itu boleh-boleh saja. (menurut saya)

Ada seseorang yang pernah berkata: ‘Memberikan komentar adalah pekerjaan paling mudah di dunia’, ya memang, makanya semua orang selalu menjadi ‘komentator’ tentang hal apapun. Tapi ada satu yang mau saya bold dari hal ini, yaitu: Seorang komentator sepak bola adalah orang-orang yang memang mempelajari dan mendalami segala informasi/hal yang berkaitan tentang sepak bola. Bukan tukang gorengan depan sekolah SD yang sehari-harinya fokus membuat adonan gorengan yang enak. Kemudian jika dibalik, Sang komentator sepak bola (mungkin) akan merasa kesulitan jika diminta untuk membuat adonan gorengan yang enak. Dapet poinnya kan?

Kok lu ngatur-ngatur kebebasan orang untuk berpendapat sih, Kay?

Tidak, pada hal ini saya hanya memberikan saran saja. Karena efek dari setiap komentar yang diberikan oleh orang-orang (secara tidak langsung) malah makin membesarkan ‘kasus’ tersebut dan ‘Kanker’ itu makin mudah menjalar kemana-mana. Bener gak? Dan lagi-lagi saya hanya kasihan jika informasi-informasi kurang baik tersebut dikonsumsi oleh anak-anak yang jiwanya masih labil dan masih merasa bahwa ‘semakin bad maka akan semakin good’.

Mungkin tujuan dari komentar yang diberikan sebenarnya baik dan bertujuan ingin ‘memperbaiki’. seperti misal: ada seseorang yang nge-share lagu berjudul ‘Lelaki Kerdus’ dengan komentar “lagu apa nih? Bahasanya gak pantes banget untuk anak-anak” sambil memberikan link lagu tersebut. Kemudian kamu retweet/quote tweet dengan kalimat “Lagu yang tidak pantas dinyanyikan oleh anak-anak nih. Miris!”. Baik? Iya. tapi sekali lagi, ini internet, dimana semua kalangan bisa mengonsumsinya. Termasuk anak-anak lain yang kemudian penasaran membuka link tersebut dan mendengarkan liriknya, lalu menyebarkannya lagi ke temannya sebagai lucu-lucuan. Dari situ saja sudah ada dua anak yang bernyanyi “Lelaki bangsaaaaat~”. Efek domino dari sharing content yang dilakukan akan terus berlanjut dan akan semakin banyak anak lain yang menyanyikan lagu itu. ya kan?

Saya tidak bermaksud menggurui atau merasa sebagai orang yang paling benar dalam hal ini, bahkan tadi saya juga sudah menuliskan bahwa ini juga jadi bagian dari proses saya mengubah pola pikir saya sebagai pembuat dan penikmat konten di internet. Bahkan jika kamu menganggap tulisan ini juga sebagai bentuk penyebar luasan konten yang tidak baik, saya akan menerima dan minta maaf.

Saya hanya peduli dengan banyaknya anak-anak sekarang yang salah memilih panutan. Sebut saja Jason purnama yang vlognya sangat Laurentius Rando, Natalia Tresya yang menjadikan Awkarin sebagai her favorite ACC in IG, dan oleh karena itu tidak heran jika ia sempat mengucap kata-kata ‘Bullshit’ di salah satu vlognya (anak umur 12 tahun berkata ‘Bullshit’ dengan santainya di ranah publik—cry). atau anak-anak kecil yang meng-cover lagu Ganteng-Ganteng Swag dari Younglexx Dkk yang dengan polosnya berucap Fak, Anj, Bangst, Bitch (mungkin) tanpa tahu artinya apa, dll. Dan  semuanya hampir masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya miris.

Saya yakin, banyak orang-orang yang peduli dengan hal tersebut. Bahkan teman-teman kreatif di kantor saya juga sedang memikirkan apa yang bisa dilakukan agar tidak semakin banyak anak-anak kecil yang terkontaminasi dengan pengaruh-pengaruh negatif di internet. Namun belum tahu apa cara yang tepat. Dan saat ini yang bisa saya lakukan hanyalah menulis tulisan ini sebagai bentuk kepedulian saya terhadap generasi keren penerus. mungkin tidak akan berdampak apa-apa tapi setidaknya saya sudah mencoba.

Dan untuk kamu yang sudah membaca sampai sini saya hanturkan terima kasih, semoga kamu juga termasuk orang-orang yang peduli dengan kemirisan yang terjadi belakangan ini dan mau bantu untuk tidak melakukan hal-hal yang seperti saya jabarkan di atas.

Inti dari inti tulisan ini adalah, sebagai apapun kamu memposisikan diri di internet, entah sebagai creator atau sebagai consumer, apapun yang kamu akan lakukan di internet usahakan disaring terlebih dulu sebelum disharing. Ok!

Saya akan mengutip kata-kata dari Iqbal Hariadi:

“YANG NEGATIF JANGAN DISEBARIN, YANG POSITIF JANGAN DIANGGURIN” –Iqbal Hariadi-

Terimakasih untuk kamu yang rela membuang waktu membaca sampai sini. Saya ingin menutup tulisan ini dengan pertanyaan: “KAMU MAU JADI GENERASI AWKARIN ATAU GENERASI AW KEREN?!

*)

IMAGINARY TALK ft IQBAL HARIADI- SARING BEFORE SHARING [AW KEREN]

RABU, 27 JULI 2016

 

18 comments on “AWKARIN OR AW KEREN?”

  1. Boom! Tulisan yg luar biasa.

    Tentunya berharap kira menjadi kreator atau konsumor (biar sama2 ujungnya or) harus bijak agar bisa membuat aw keren aw keren yang baru, bukan awkarin.

  2. Setuju, tapi poin sebagai orang tua juga harus ada nih kayaknya tapi karena saya ngerti kondisi masnya jadi ya~ hehehehe

    Terus, soal bagian ngeshare lelaki kardus ituh, kalo ngeshare nya disertai caption yg nunjukin bahwa itu ga baik, justru itu jd bikin anak2 jd “ooh yg kaya gini itu ga baiik”. Gitu aja sih bang

    • hehe aku belum jadi orang tua jadi merasa tidak berkapabilitas menulis poin itu,takut disangka sotoy ehehe

      dan yang ngeshare disertai caption itu memang abu abu sih, tapi saya mikir buruknya bahwa seorang anak semakin dibilang tidak bole/ tida baik malah semakin penasaran, saya soalnya dulu gitu. dan untuk anak yg berpikir “oh jadi itu tidak baik ya” dan tidak menontonnya itu berarti anak tsb adalah generasi yg keren yang pada tulisan ini concern saya bukan ke ‘mereka’. gitu kak. tapi aku terimakasih banyak atas komentar dan sarannya 🙂

  3. keren bang,, ntap. Mudah mudahan lebih banyak netizen yang “disaring dulu sebelum sharing” 👍👍👍👍

  4. Saya suka tulisan ini, buat saya hal-hal yang bikin anak-anak jadi niru abis-abisan dan yang paling masalah adalah hal-hal negatifnya yang ditiru. Maka, perlu banget nih buat gerakan perubahan, tulisan ini bikin saya ngerasa “oke gue ada temen yang sepemikiran sama gue, masih ada orang yang jengah sama vlog yang jauh dr kata positif dan menghabiskan kuota serta waktu yang sia-sia” tapi setelah baca ini justru level greget makin bertambah, rasanya seperti kurang kalo cuman komentar melalui tulisan-tulisan aja, saya berharap kakak bisa bikin gerakan melawan itu, dan saya mau bgt untuk ikut gerakan perubahan itu. Saya harap comment saya bisa jadi pertinbangan hehehehe

    ((Mahasiswa yang jengah liat vlog seperti mereka))

    • untuk gerakannya nyata, saya dan beberapa teman lagi nyoba si buat mikirin ‘apa cara yg tepat’ atau minimal mencoba ‘bergerak nyata’.

      jika ada saran apa yg mesti dilakuin bole share aja ya ke saya di line shamposachet.

      thanks btw udah menyediakan waktu buat ngebaca ini 🙂

  5. Wah bang Rizky ini berbakat sekali bloggingnya. Semua tulisannya bisa dirasakan memang apa yang menjadi unek-unek di hati, hehe. Salut lah bang, semua yang ditulis sama banget sama pendapat saya. Sepanjang baca, dalem hati “wah iya nih bener nih” hahaha. Tida lupa humor receh nya always terselip diantara paragraf. Topik nya seru, bacanya juga tidak terlalu serius karena dibumbui sedikit humor. Semangat terus bang! Semoga ini salah satu blog yang membawa dampak positif di internet. Saya tunggu konten berikutnya ya, bang rizky netizen budiman.

  6. wah wah… yg postif jangan dianggurin, kadang kita sendiri juga ragu kan.. konten yg kita buat positif atau negatif.. karena.. ah ya sudah lah :p

  7. Setuju banget ini sih, well gak ada yang bisa disalahkan antara vlognya sama concumernya, suka suka lah ya..
    yang salah disini adalah belum bisa memilah dan kontrol pada suatu konten masih minim..

    tadi gue sempet liat vlognya dan sedih pas bocah bocah di Taman Safari langsung foto-foto kegirangan masuk vlog doi. oh hell no! jamannya gue yang terbahagia adalah dapetin tajos bagus dari ciki. LOL

    menanggapi soal caption apapun kalo memang si consumer tertarik, kita gak bisa apa apa sih..

    well jamannya internet yang gak ada saringan, mending otak yang jadi smart untuk menyaring :)) cheers! semoga generasi ke depan lebih bisa nyaring kerennya :))

  8. Duh, Kay. Bener banget tuh semuanya. Apalagi yang soal konten negatif malah di-share dan dikomentarin. Aturan ya disimpen aja, jangan malah disebarluaskan, ya. :))

    Btw, gue jadi berkaca sama tulisan-tulisan gue di blog. Suka nggak difilter kata-katanya. Blue material banyak. Ku ingin berbenah diri jadinya. :’)

  9. *ngangguk-ngangguk*
    Setuju! Tulisannya kereeen!

    Bener ih, keponakan aku yang masih kelas 1 SD aja kerjaannya nontonin pidio di YouTube. Dia sampe nunjukkin ke aku. Alhamdulillaah sih waktu itu nggak nontonin yang disebut di atas itu. Tapi dia cukup hapal sama youtuber-youtuber, aku kalah malah -_- Semoga aja tuh bocah nontonin yang bener-bener… :”) takut sih. Takut dia tersesat di channel yang kontennya kurang bagus buat anak seumur dia. Anak kecil kan suka ikut-ikutin apa yang diliatnya, apa yang didengernya. Ih gemes deh sama youtuber yang ngomongnya kayak gitu -_-

    Semoga aku bisa berkarya yang menghasilkan manfaat deeh.

    SARING BEFORE SHARING! Yak, setujuuu! Semester lalu belajar etika profesi dan komputer masyarakat gitu, dan salah satu yang dibahas dosennya ini. Sekarang apa-apa emang cepet banget nyebarnya, padahal itu nggak bener atau berdampak negatif. the power of jempol~ Main sebar-sebar aja, copy->paste->send (di grup wa, line, dll). Makanya bagusnya kita tabayyun dulu, cari tau dulu gitu, bener apa enggak sih, dipikir-pikir dulu ini bagus apa enggak sih kalo disebar.

    Tapi kalo tulisan ini, Inshaa Allaah bagus buat disebar. \(^_^)/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *