Lelaki itu merebahkan tubuh pada kasur lantai di kamarnya. kasurnya sangat tipis serupa tikar, hanya mungkin agak sedikit tebal, tanpa seprai, hanya kasur saja.

Kemudian ia melipat kedua tangannya, menaruhnya dibelakang kepala dan membentuk bantalan untuk dijadikan sandaran kepalanya. Ia diam sejenak, menghela nafas panjang, sepanjang dan sedalam ia bisa, menghembuskannya keras-keras. lalu kembali diam.

Tidak ada yang ia pikirkan, hanya diam.

Matanya nanar menatap langit-langit kamar. mata yang tepian bawahnya hampir melebam dipukul lelah karena sudah berbulan-bulan lamanya ia dihantui insomnia berkepanjangan. Segala ngantuknya selalu ia berhasil kalahkan dengan pikirannya. Pikiran yang mungkin tidak memikirkan apa-apa.

Lelaki itu menutup matanya sejenak, mencoba menerjemahkan malam yang bising oleh suara air hujan yang memukuli atap rumahnya, berusaha untuk tidak memperdulikan dingin yang berkumpul didalam kamarnya.

Tak lama kemudian ia membuka mata, bangkit dari rebahnya, lalu mengambil secarik kertas dan menuliskan sebuah kalimat

β€œMungkin sudah tiba saatnya aku mundur, tidak berusaha ikut dalam euforia. cukup diam dan melakukan aktivitas berbeda.”

4 comments on “DIAM”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *