Kepada isi kotak coklat bekas kaleng biskuit yang Ia simpan di bawah lemari belajarnya, Ia mengirimi  sebuah surat.

“Dear Kotak coklat bekas kaleng biskuit,

Entah berapa kali aku sudah membuka kamu, 5 atau 8 kali. maafkan jika aku lupa. Karena berapa kalipun diingatkan, aku akan mengulangi kelupaan itu. kamu tahu itu.

Aku ingin berterimakasih, sekaligus ingin memaki. memaki kamu, memaki aku, memaki waktu.

Kamu banyak mengingatkan aku dengan beberapa hantu. hantu baik, hantu bodoh, hantu menyeramkan dan beberapa hantu yang harus aku sumpah serapahi keberadaannya.

Hantu-hantu yang bersemayam di dalam kepalaku itu, begitu saja keluar, tiba-tiba, tanpa aku bisa menolaknya. Hantu yang tidak memiliki ruang, hantu yang tidak mengenal batasan waktu dan tempat, hantu yang selalu suka bergentayangan di dalam kepala. Jelas, buatku itu lebih seram daripada hantu wanita berambut panjang yang pernah ku lihat menampakan diri di salah satu acara mistis di televisi. karena dengan mudahnya, mereka akan membuatmu merasa ingin mati cepat dengan cara yang sangat lambat. sakit.

Dear Kotak coklat bekas kaleng biskuit,

Suatu hari mungkin aku akan membuangmu. bisa saja besok, bisa saja lusa, atau besoknya lagi, atau lusanya lagi, atau lusanya lagi atau lusanya lagi, atau…

Apa aku harus punya satu lagi kotak coklat bekas kaleng biskuit yang baru, agar tidak perlu repot-repot membuangmu?

huh.. Sebentar,

Sepertinya lebih baik aku menutup mulutmu rapat-rapat dengan solasi hitam yang tebal, menyimpanmu lebih dalam agar tak sengaja dengan mudah tertendang kakiku yang sedang belajar.

Ya, memang.

Hantu itu tidak bisa mati. Setidaknya, dengan cara ini, mungkin, aku tidak akan mudah mati.”

Ia meletakan pena, melipat rapi kertas yang ia tulis tadi, dan menyimpannya di dalam Kotak coklat bekas kaleng biskuit.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *