24 tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang anak kecil yang ceria. Ia akan selalu semangat menuju meja belajarnya setiap pukul 19:00. Membawa 2 batang pensil dan 1 buah buku tulis. Berkutat dengan hal yang tidak seharusnya dia kerjakan dan mungkin sebenarnya ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan, saat itu ia hanya senang belajar saja. Mengenal huruf dan angka yang Ayahnya tulis besar-besar di atas meja belajarnya. Ia akan sangat gembira ketika bisa menjawab setiap pertanyaan dari sang Ayah tentang huruf dan angka-angka tersebut.

Saya pernah bertanya satu kali padanya, “kamu senang belajar ya?”

“Iya, karena kata Ayah, kalau rajin belajar aku bisa jadi astronot! Aku mau tinggal di langit.” Jawabnya.

Ya, setelah itu, saya jadi tahu bahwa ada 2 hal yang anak kecil ini suka, belajar dan langit. Menurutnya, langit adalah tempat paling sepi dan damai, sangat cocok untuk tempat belajar. ia ingin ke sana.

18 tahun yang lalu, saya bertemu dengan anak kecil yang senang menyendiri. Itu karena, hampir setiap hari, teman-teman sekolahnya sering mengejek bentuk tubuhnya yang kecil dan warna kulitnya yang hitam, terutama teman-teman perempuan di kelasnya. Hal itu yang selalu membuatnya tidak ingin ke sekolah, padahal ia anak yang pintar, karena dari umur 4 tahun ia sangat suka dengan belajar. Ia tidak dijauhi, tetapi karena Ia merasa fisiknya berbeda dengan yang lain, ia menutup diri untuk berani bergaul dengan teman-temannya.

Saya pernah bertanya satu kali padanya, “kenapa kamu tidak ingin bergaul bersama yang lain?”

“Iya, daripada aku tidak bisa diterima oleh orang lain, lebih baik aku yang menjauh. Rasanya akan lebih baik.” Jawabnya.

Ya, setelah itu, saya jadi tahu bahwa anak kecil ini bukan tidak ingin bergaul, tetapi dipermalukan oleh banyak orang itu rasanya akan lebih sakit daripada ia sendirian. Ia tidak ingin dipermalukan.

15 tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang anak yang pemalu. Pengalaman masa mudanya yang sering diejek teman-temannya membuat ia merasa tidak percaya diri. Setiap ada teman perempuan yang mendekati;hanya untuk sekedar mengajak berkenalan atau berbicara– tubuhnya gemetar, keringat dingin keluar dari keningnya, mulutnya terbata. Ia ketakutan seolah semua perempuan di dunia ini adalah monster yang sewaktu-waktu bisa memakannya kapan saja.

Saya pernah bertanya satu kali padanya, “kenapa kamu takut dengan perempuan?”

“Iya, aku takut diejek oleh mereka. Aku rasa, aku sudah cukup banyak menerima ejekan. Aku takut dipermalukan, lagi” Jawabnya.

Ya, setelah itu, saya jadi tahu bahwa anak ini bukan pemalu karena ia memang pemalu, tetapi pengalaman buruk sepertinya menjadi hantu untuk dirinya sendiri. Ia ketakutan.

11 tahun yang lalu, saya bertemu dengan anak muda yang sok nakal. Hobinya merokok di kantin sekolah, bolos jam pelajaran, mencontek, mengganggu orang, dan masih banyak lagi kenakalan yang ia lakukan di sekolahnya. Ia sering diejek oleh teman-temannya. tetapi ia punya cara lain untuk menerima ejekan tersebut, yaitu dengan membalas semua ejekan temannya dengan hal lucu, yang justru malah membuat teman-teman sekelasnya menjadi tertawa.

Padahal menurut saya, sebenarnya Ia adalah anak yang cukup pintar, tetapi mungkin teman-teman sepergaulannya di sekolah yang membuatnya menjadi anak nakal seperti ini.

Saya pernah bertanya satu kali padanya, “kamu itu pintar, tapi kenapa kamu nakal?”

“Iya, pintar saja tidak membuat aku banyak teman, tetapi dengan nakal, temanku banyak. Menurutku ini cara terbaik agar aku punya teman. Sudah cukup buatku untuk selalu merasa sendirian!” Jawabnya.

Ya, setelah itu, saya jadi tahu bahwa sebenarnya anak ini tidak nakal, hanya saja, Ia ingin punya banyak teman dan diterima dipergaulan. Ia hanya ingin punya teman.

3 minggu lalu, saya bertemu dengan anak muda yang pendiam. Menurut teman-temannya, awalnya ia adalah pribadi yang menyenangkan, sering membuat orang lain tertawa dan hampir selalu membawa keceriaan untuk teman-teman di sekitarnya.

Lalu saya bertanya satu kali padanya, “Kenapa kamu sekarang menjadi anak yang pendiam?”

“Iya, banyak hal yang aku sedang renungkan. perihal masa kecil yang penuh cita-cita, perihal masa lalu yang penuh ejekan, perihal masa sekarang yang merepotkan, perihal masa depan yang membingungkan, dan perihal-perihal hidup yang lain. Yang jika aku ceritakan semuanya kepada kamu pun, kamu tidak akan mengerti bagaimana sulitnya. Aku bukan mereka, hidup aku bukan seperti hidup mereka, aku berbeda!” Jawabnya.

Ya, setelah itu, saya jadi tahu bahwa… hmm tidak, saya tidak tahu apa-apa.

Saya penasaran, lalu saya bertanya satu kali lagi kepadanya, “memangnya waktu masih kecil, cita-cita kamu mau jadi apa?”,

“aku mau jadi astronot! Aku mau tinggal di langit!” Jawabnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *