Rabu Sore, 24 juni 2015.

Handphone gua berdering, ada panggilan dari nomor yang tidak gua ketahui. Karena penasaran siapa yang menelepon, maka dengan sigap gua segera menggeser notifikasi panggilan ke arah warna hijau.

“Halo.”

“Halo selamat sore, dengan Bapak Fikry?”

Terdengar suara wanita di seberang telepon dengan bahasa formal seperti bahasa costumer service bank atau leader-leader MLM.

“Iya, sore. Tapi maaf Bu, saya Rizky bukan Fikry.” Jawab gua dengan suara rendah dan sedikit bingung.

“Oh iya maaf Pak Vicky.”

“Rizky Bu.”

“Kiki?”

“Iya deh Bu, nama saya Kiki, maaf sebelumnya ada perlu apa ya Bu?”

gua pasrah, padahal dalam hati gua “yaudah deh terserah Ibunya aja, hayati lelah”

“Ini Pak, saya Claudya dari PT Hy*****ter. Saya ingin mengundang bapak untuk menghadiri proses interview di perusahaan kami. dan untuk waktunya, besok pagi bisa Pak?”

“Bisa Bu, Jam berapa dan dimana ya Bu alamatnya? Bisa disebutkan, biar saya catat.”

Gua menjawab dengan excited. Ya, secara gua memang sudah pengin banget kerja lagi. Kelamaan nganggur dirumah, isi kepala gua takut dijamurin.

“Begini saja Pak, Untuk lebih jelasnya, nanti saya kirimkan SMS saja.”

“Baik Bu kalau begitu saya tunggu SMS nya.”

“Baiklah, nanti saya SMS ya Pak Kiki.”

“Iya, terimakasih atas informasinya ya Bu Lidya”

“Claudya pak”

“Oh iya maaf Bu Clauvia”

“Claudya..sudahlah pak, selamat sore pak Kiki”

“Rizky Bu, Riz…”

“tuuuuut…”

Teleponnya sudah dimatikan, padahal kami masih saling salah menyebutkan nama masing-masing. Jujur saja, saking excitednya gua tidak begitu memperhatikan pengucapan nama dari Ibu tadi.

Kemudian tidak lama, ada SMS masuk.

“Selamat Sore.

PT. Hy*****ter

Jl. XXXXXXXXXXXXXXXX

Kelapa Gading, Jakarta Utara.

(seberang MOI)

Pukul 10:00

Berpakaian Rapi dan Bawa Alat tulis.

Bertemu dengan Ibu Claudya.”

Respon gua setelah membaca sms itu, “OH CLAUDYAAAAA”

Kamis, 25 juni 2015.

Gua sudah siap dari jam 7 pagi, saking excitednya. dengan berpakaian rapi –memakai kemeja, berdasi, sepatu pantofel dan rambut gua hias dengan sedikit sentuhan pomade. Jadilah rambut gua seperti gorengan baru matang. Kaku, berminyak dan mengkilat.

Jam 9 kurang, gua berangkat dari rumah. Karena situasinya adalah bulan puasa, jadi prediksi gua jalanan enggak akan macet dan pasti gua akan Sampai disana sebelum jam yang ditentukan.

09:40

Gua tiba di sebuah ruko kecil tiga lantai yang di lantai pertamanya ada seorang bapak-bapak sedikit tua memakai baju batik sedang duduk bersila dipojok ruangan sambil memegang handpone, sepertinya ia sedang mencharge handphonenya. Terlihat dari kabel yang menempel pada handphonenya yang menuju ke socket listrik dipojokan ruangan tersebut.

“Permisi Pak, ini PT Hy******er ya Pak?” Tanya gua ke Bapak tersebut.

“Oh iya bener mas, ada perlu apa ya?” Jawab Bapak itu dengan sedikit menoleh tapi badannya masih tetap pada posisi bersila dan tangan kiri memegang handphone.

“Saya mau bertemu dengan Ibu Claudya Pak, ada panggilan interview.”

“Oh, gitu ya mas. Yaudah mari saya antar ke tempat Ibu, di lantai 3.”

Bapak-bapak itu bangkit dari posisinya dan bergegas jalan menaiki tangga, jalannya yang agak sedikit cepat dan hampir gua ketinggalan. Jujur, perjalanan yang lumayan jauh bikin gua capek. Dan melihat empat buah deretan tangga yang harus dilewati untuk menuju lantai 3, saat itu gua sangat ingin berkata “Pak, gendoooong~”

Tapi gak jadi, gua malu.

09:50

Gua bertemu dengan seseorang yang sempat gua salah mengucapkan namanya, ya. Ibu Claudya. Untuk seumuran ibu-ibu (kira-kira umur 35-40 tahun, mungkin). Ibu Claudya ini tergolong ‘masih cantik’, dengan make up yang tidak berlebihan dan gaya rambut standar ibu-ibu-sosyalita-gawl-anak nongkrong café alias belah tengah bergelombang. Kulitnya putih senada sama warna baju yang digunakannya. (masih) cantik. Tapi sayang, keajaiban make up tidak terlalu bisa menyembunyikan gurat wajah.

Gua diminta untuk mengisi biodata dan segala macam tab kosong yang ada di form yang ibu claudya berikan.

Setelah selesai mengisi biodata, gua diminta untuk mengikuti berbagai macam test.

Test yang pertama cukup mudah, hanya membedakan tulisan dan angka. Jika tulisannya sama maka centang kotak ‘S’ (sama) dan jika berbeda centang kotak ‘T’ (tidak sama).

contoh soalnya kaya gini;

  1. 1234abc56 ….. 123acb56 , gua mencentang kotak ‘T’, karena tidak sama
  2. Rizky Exa Mardiansyah …… Zayn Malik, gua mencentang kotak ‘S’, karena sama. jelas. absolut. terpampang nyata. bukan bualan. jika mau muntah dipersilahkan.

Kira-kira seperti itu soalnya.

Karena cukup mudah, gua berhasil menyelesaikan 50 soal kurang dari waktu yang ditentukan.

Lanjut ke test yang kedua, menyamakan kegunaan benda satu dengan benda lain. 10 menit 40 soal.

Contoh soalnya seperti ini:

  1. Selang = air, nadi = …. . jika selang digunakan untuk menyalurkan atau menjadi penghubung antara keran dan air, maka dipikiran gua isi yang tepat untuk titik-titik tersebut adalah ‘darah’.
  2. Tampan = Cantik, Jelek = … , nah untuk perihal soal ini, jujur gua bingung. Karena jika tampan adalah cantik, maka jelek adalah buruk? Ah karena gua gak suka menulis sebuah ke‘buruk’an, maka gua pun mengisi titik-titik itu dengan ‘Bukan Saya

Hhh~

Mari lanjut saja ke test yang ketiga, 30 soal dengan waktu 15 menit. gua diminta menghitung. Ya menghitung. Gua ulang ya. MENGHITUNG!!

“Kali ini agak sulit, kamu hitung ya hasilnya ini. waktunya Cuma 15 menit.”

Setelah Bu Claudya berkata sambil memberikan lembaran soal tersebut, kepala gua sedikit mengeluarkan kepulan asap putih.

“GUA PALING GAK BISA KALO MATEMATIKAAAAAAAAAA!!!”

Soal pertama sampai ke lima masih tentang tambah-tambahan biasa, gua masih sanggup. tapi makin kesana, sudah masuk ke soal perkalian, pembagian, akar pangkat, persentase dll.

Kening gua ber’embun.

Alhasil gua mengerjakan soal-soal tersebut dengan ala kadarnya sesuai kemampuan isi kepala gua, yang banyak orang bilang gak ada isinya ini.

Dan test terakhir, gua diminta untuk membuat surat dan data dengan Microsoft word dan Microsoft excel. Karena gua sedikit berkawan akrab dengan dua program itu, jadilah dua file tersebut gua buat dalam waktu 10 menit.

Kemudian setelah test gua diperiksa oleh Ibu Claudya yang masih cantik itu. Ternyata gua lolos test, Alhamdulillah.

“Kamu lolos ya test ini, Cuma ini soal perhitungannya masih banyak yang salah.” Kata Bu Claudya.

Gua gak bisa komentar tentang itu, selain berusaha mengeluarkan senyum semanis-manisnya.

11:00

Gua dibawa ke ruangan kecil seukuran kira-kira 3 x 5 meter persegi. Bertemu dengan seorang bapak-bapak berbadan sedang (tidak kurus tidak juga gemuk) dan tinggi. Yang sepertinya beliau adalah kepala perusahaan ini alias bos.

Beliau orang yang jenaka, gua ditanya sambil diajak bercanda dan gua menjawab dengan serius. Dalam hati gua “emangnya enak, lagi bercanda diseriusin? Wq”

Satu pertanyaan yang gua ingat betul adalah

“Kamu tujuan bekerja apa? Cari uang? Cari teman apa cari pengalaman?”

Dengan santai gua menjawab

“Cari uang pak.”

“lalu yang kedua?”

“Cari pengalaman”

“Yang ketiga?”

“Sholat malam dirikanlah eh maaf maksudku cari teman Pak.”

“Oh oke hahaha baiklah”

Bapak bos itu tertawa padahal gak ada yang menurut gua lucu. Dan karena penasaran gua pun bertanya,

“Maaf, emangnya kenapa ya Pak?”

“Oh, enggak. Jawabanmu menunjukan bahwa kamu adalah orang yang realistis. Benar, saya suka. Kamu kerja buat cari uang, karena kalo kamu mau cari teman, jangan disini. Hahaha”

Bapak itu lanjut tertawa sementara gua mengerenyitkan dahi sambil bergumam dalam hati.

“Lucunya dimana woy ini???? plis kasih tau guaaa!”

Setelah proses interview tadi, gua diminta menunggu di ruangan sebelah. Sepertinya itu ruang meeting, terlihat dari meja panjang yang bisa dipakai untuk tiduran dua orang tersebut, tiga orang juga bisa tapi mepet-mepetan.

Dan gua memilih duduk di bangku paling tepi dekat jendela. Di dalam ruangan itu ada bapak-bapak lumayan cukup tua duduk bersebrangan dengan gua, entah ia sedang mengerjakan apa, yang gua lihat dari ekspresi wajahnya sepertinya hal yang dia kerjakan itu cukup sulit sampai beberapa kali gua pergoki ia menghembuskan nafas kencang “hhh~~” dan menepuk keningnya pelan sambil berujar “duuh”.

Untung ia tidak berucap “duh pusing pala barbie”, karena bagi gua, mendengar cewek mengucap ‘pusing pala barbie’ aja udah cukup bikin males. Apalagi ini cowok, bapak-bapak yang ubannya sudah menjalar sampai ke kumis pula. Bisa gak nafsu makan dua setengah hari gua nanti.

Biar gak bosen, gua membuka buku “Kamu; cerita yang tidak perlu dipercaya” karya seorang teman (Sabda Armandio) yang gua sengaja bawa dari rumah. Sebenarnya gua sudah selesai membaca buku itu, tapi entah. (mungkin karena gua suka cerita di buku itu) gua merasa seperti harus mengulang lagi membaca dari awal.

gua mulai membaca.

12:00 lewat, hampir 12:30

Setelah hampir sekitar satu jam lebih, akhirnya Ibu Claudya memanggil gua untuk masuk keruangan interview yang tadi lagi. Gua memasukan buku ke dalam tas dan berjalan menuju dan masuk ke ruangan tersebut.

Didalam sana sudah ada Ibu Claudya sedang duduk dengan lembar-lembar kertas hasil test gua tadi diletakkan di meja.

“Dari hasil test dan keputusan Pak Bos—yang interview kamu tadi- maka kami dari perusahaan akan menerima kamu sebagai karyawan disini. Kamu bisa mulai bekerja pada tanggal 1 juli 2015 ya. Tepat di awal bulan, sekalian nanti kamu tanda tangan kontrak. Selamat!” kata ibu Claudya.

Gua yang sudah jenuh menganggur, senang mendapat informasi tersebut.

“Wah terimakasih Bu sudah mau menerima saya bekerja disini, baik saya akan masuk sesuai informasi tadi. Sekali lagi terima kasih ya Bu.”

Setelah itu gua bersalaman dengan Ibu Claudya tersebut, gua pun langsung bergegas turun dan menuju parkiran motor dengan perasaan senang “Akhirnya gua kerja lagi”.

Gua segera menyalakan motor, sampai di pintu parkiran, gua kasih kartu parkir ke petugasnya, lalu petugasnya mengechek di komputer.

“Berapa Mas?” Tanya gua.

“8.000 Pak” Jawab si petugas

“LAPAN RIBU??” gua agak kaget.

“iya pak.”

Gua membayar dengan uang 10.000. uang satu-satunya yang gua bawa dari rumah. Dan jadilah di dompet gua tersisa tinggal dua lembar pattimura dari kembalian parkiran.

Saat itu gua pengin banget bilang “ANZEENG DUA JAM DOANG LAPAN RIBU!! ITU KALO BELI MIE AYAM BAWANG DAPET 3 MASIH KEMBALI GOPEK!!” tapi gua tahan dengan mengelus dada pelan-pelan, soalnya gua ingat, kalo gua lagi puasa. Nanti aja marah-marahnya kalo udah magrib.

Gua pulang dengan dibalut perasaan senang di hati dan sedih di kantong~


01:30

Gua tiba di rumah.

baru sampai pintu masuk, Ibu gua bilang “Ky, tadi dicariin sama Bang Arfi. katanya disuruh kasih lamaran ke dia nanti malem.”

gua mendadak bingung.

“Bang Arfi? ah kenapa gak dari kemaren sih”

“Ya, Mama juga baru banget tadi dia kesini ngasih tau”

“Yaudah deh ntar malem Ky ke rumah Bang Arfi. ah ada-ada aja dah”

….

-bersambung-

19 comments on “INTERVIEW KERJA [PART 1]”

  1. Gue juga pernah tuh, Kay. Interview beberapa jam aja sampe belasan ribu. Sejamnya 3 atau 4 ribu gitu. Mahal banget, kan. 🙁

    Waah, giliran udah diterima malah disuruh titip ke Bang Arfi. Kemudian dilema.
    Ini part 2-nya kapan? Jangan kayak film-film di bioskop yak. Harus nunggu setahun. 🙁

  2. Gue juga pernah tuh, Kay. Interview beberapa jam aja sampe belasan ribu. Sejamnya 3 atau 4 ribu gitu. Mahal banget, kan. 🙁

    Waah, giliran udah diterima malah disuruh titip ke Bang Arfi. Kemudian dilema.
    Ini part 2-nya kapan? Jangan kayak film-film di bioskop yak. Harus nunggu setahun. Penasaran nih. 🙁

  3. Gue juga pernah tuh, Kay. Interview beberapa jam aja sampe belasan ribu. Sejamnya 3 atau 4 ribu gitu. Mahal bgst.

    Waah, giliran udah diterima malah disuruh titip ke Bang Arfi. Kemudian dilema.
    Ini part 2-nya kapan? Jangan kayak film-film di bioskop yak. Harus nunggu setahun. 🙁

  4. sukses interview nya bang, semoga cepat dapet kerjaan biar gak gelisah lagi.

    Ditunggu lanjutan keabsurd-an interview lo. Banyak kan panggilan interview yang absurd. Ditunggu cerita-ceritanya. Hidup exaddict °\(•_•)/°

  5. Wazeeg udah mau kerja lagi. Anjir gue ngakak pas bagian yang ketiga sholat malam dirikanlah bwakakakakak. Dua jam lapan ribu, sebulan bisa beli kontrakan :’)

  6. emang yang namanya matematika sering jadi persoalan pelik banyak orang deh. Untung aja walopun banyak salahnya, ujung2nya ketrima juga..
    Ya walopun endingnya mesti bayar 8 ribu buat parkirnya sih ya~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *