Kemarin-kemarin ini ada larangan pada anggota DPR yang wanita untuk tidak boleh memakai rok mini saat bekerja, menurut gue itu sebenernya gak perlu dibahas besar karena sebenernya udah harus ada pada kesadaran masing-masing pengguna aja dan sadar bahwa ‘siapa mereka’ .

kaya cerita gue yang pernah gue alamin, dan sekalian gue mau ngasih pendapat sedikit tentang rok mini.
jadi begini ..
Baru aja gue keluar dari sebuah masjid untuk melakukan shalat ashar sore itu,didepan pintu gerbang masjid, lewat lah sebuah motor dengan seorang wanita cantik memakai baju merah dan rok yang sangat mini sekali sehingga memaksa gue untuk melakukan zina dalam bentuk pandangan. Gak munafik juga ketika gue melihat itu ada segelintir pikiran-pikiran gak jelas berkecamuk dibarengin sesuatu yang bereaksi di balik resleting celana . tapi untungnya gue masih punya batas kewarasan bertindak, jadi yaa Cuma menikmati dari jauh pemandangan yang ada.
Kata temen gue ,”parah lu dah, ngeliatin ampe segitu nafsunya !! haha”
Gue jawab aja  “lah mbaknya aja, make rok mini begitu ,ya gue kan normal wajar lah boy !!.”
trus siapa yang salah ? gue atau mbak-nya ?
pertanyaan itu seperti dilema berkepanjangan ketika dikaitkan dengan masalah sosial berbentuk “ROK  MINI” . rok mini atau hot pants memang sudah ada dari dulu tapi masih berada di lingkup wilayah yang berpola pikir ‘western’ Cuma mungkin baru ‘berkembang biak’ di kalangan remaja indonesia sekitar tahun 2010 sampe sekarang ini.
fenomena rok mini ini sekarang sudah bertumbuh pesat di indonesia, bukan hanya oleh anak muda tapi juga sampai ibu-ibu ,tante-tante bahkan anak-anak. Pernah suatu ketika gue liat di jalan raya, sebuah keluarga mengendarai sebuah sepeda motor, bapak mengemudi, anak dan istrinya dibonceng, ironisnya ketika gue liat sang anak menggunakan jilbab tertutup rapi mungkin mau diantar mengaji tapi si ibu malah memakai celana  jeans yang pendek diatas lutut sekitar 5cm . huhft* apa itu dapat disebut sebuah “panutan” ?.
Sekarang ini, ketika lu jalan ke sebuah mall atau pusat perbelanjaan,dijalan raya,dipasar,dikampung-kampung bahkan di sebuah institusi berbentuk sekolah atau kampus yang harusnya mendidik seseorang untuk bisa menjadi lebih ‘terhormat’ banyak kita jumpai jajaran paha-paha mulus yang tidak dibalut dengan helaian benang itu.  bahkan pernah juga ada sekelompok wanita yang mendemo di pusat kota jakarta yaitu di bundaran HI pada tanggal 18 september tahun lalu dengan tuntutan kebebasan hak menggunakan rok mini tanpa ada intimidasi, beritanya dan foto-fotonya bisa dibaca disini dan disini . Aneh memang , tapi itulah kenyataan nya.
Kadang  pengen banget gue nanyain ke si pengguna rok mini itu pertanyaan-pertanyaan seperti
“mba , apa dengan rok mini yang mba pakai itu lalu saya atau kami boleh menikmati paha mbak?”
“jika boleh,apakah mba memang sengaja supaya kami para laki-laki melihatnya atau mba justru merasa risih jika kami melihatnya?”
“Atau gini deh mbak, bisa gak mba tolong jelasin gimana seharusnya saya bisa menikmati paha mbak agar sama-sama nyaman ketika saya menikmati melihat dan mbak menikmati dilihat?”.
Tapi sudah bisa dipastikan ketika gue menanyakan hal itu ,akan ada jawaban berupa kalimat-kalimat sensor ke gue dari si pengguna,atau malah gue bakal dapet bingkisan berupa ceplakan merah berbentuk tangan di pipi gue.
Padahal harusnya pertanyaan itu sangat perlu ditanyakan agar ada jawaban yang lebih logis untuk mengambil sebuah kesimpulan dari fenomena ini.
Oleh karena dasar itu gue lebih memilih menikmati semuanya secara diam-diam melalui ‘zona aman dan nyaman’ yang gue buat sendiri agar tidak berdampak sosial yang lebih buruk.
Lalu , Kenapa gue bilang ini jadi sebuah dilema berkepanjangan? Sekarang gini , gue bakal tanya sama kalian para lelaki . “lebih membangkitkan gairah mana , ketika lu liat 2 cewek sama-sama cantik ,tapi yang satu berkerudung atau berpakaian tertutup rapi dan yang satu lagi menggunakan tanktop dan hotpants ?”
Gue kira setiap laki-laki ‘normal’ yang diberi pertanyaan seperti itu, akan memilih wanita tipe ke dua.  Ya karena alasan tadi , semua laki-laki normal pasti akan berpikiran yang menjerumus ketika ada seorang wanita cantik berpaha mulus menggunakan rok mini atau celana super pendek melintas didepan kita ,ataupun ketika si wanita lewatnya disamping kita, sudah bisa dipastikan kita sendiri yang akan merubah posisi kita agar menjadikan pemandangan tadi  ada persis didepan kita.
Jika ada bantahan berupa “tergantung iman masing-masing aja” , gue rasa orang-orang beriman yang jujur pasti juga akan berfikiran sama seperti gue dan laki-laki normal biasa dengan iman biasa. Mungkin Cuma bedanya di perbuatan yang akan dilakukan selanjutnya. Itu aja .
gue pun akan mengaku beriman, gue sholat ,gue ngaji , tapi ya itu tadi, rok mini tetap akan menjadi rok mini , yang terkadang daya tariknya bisa melampaui daya tangkal iman. Jika ada yang bilang “yaelah lu aja yang pikirannya jorok ” , bukan gitu mba ,gue udah nyoba buat sebisa mungkin gak berfikiran jorok, tapi kan mba-nya sendiri yang menjorok-jorokan pahanya didepan gue seolah meminta buat gue lihat.
Jika berbicara mengenai hak, semua orang memang memiliki hak masing-masing termasuk hak berpakaian , tapi selama hak itu berada pada koridor yang tepat dan tempat yang tepat gue rasa pasti punya dampak baik bagi diri sendiri atau orang lain.
Jika coba kita sedikit ber-analogi tentang hak, misalnya merokok. menurut gue itu termasuk hak. Karena tidak seorang pun kecuali diri sendiri dan orang terdekat si perokok yang boleh melarangnya untuk tidak merokok, dan ketika ada yg lagi ngerokok ditempat umum trus ditegor “jangan merokok dong mas, asepnya kan ganggu saya. Kalo mau mas ngerokoknya diruangan merokok aja”. Lalu si perokok menjawab “rokok-rokok saya,belinya pake duit saya, kalo situ gak suka asep ya jangan diisep asepnya” . trus apa lu langsung mau ngajak berantem itu orang Cuma karena merokok asepnya ganggu lu ?.  atau ketika ada yang bermain gitar dan nyanyi keras-keras malam-malam sementara lu lagi tidur ,trus lu  menegur. Lalu si penggitar menjawab “yaudah kalo lu gak suka dengar suara gitar gue ,lu tinggal tutup kuping , gitar-gitar gue kok lu yang repot !!” , lalu kira-kira lu bakal marah-marah gak ke si penggitar ?. setidaknya main gitar emang sebuah hak tapi jiwa tenggang rasa juga harus lu masukin di daftar kewajiban lu sebagai manusia, lain hal ketika lu main gitar di studio yang kedap suara , mau lu teriak-teriak sampe pita suara lu putus atau level volume gitar lu sebesar apapun,itu terserah minimal lu gak ganggu orang lain.
Sama halnya dengan rok mini dan hot pants , semuanya akan terasa ‘aman’ seandainya si pengguna menggunakannya pada waktu dan tempat yang tepat,contohnya di dalam rumah atau dikamar, bahkan jika tidak mau pakai celana pun itu tidak akan menjadikan sebuah pertempuran pikiran waras dan mesum diotak laki-laki karena emang Cuma lu yang bisa lihat . dijamin semua aman dan terkendali dan lebih terasa ‘sesuatu banget yah’ juga kan ?.
Tapi bisa kita lihat di kampus ,di sekolah , di boncengan motor , di halte ,dijalan ,di mall-mall ,banyak tersebar paha-paha mulus yang berjajar tanpa ‘censored’ , maka ketika gue bilang “paha cewek lebih murah dari paha ayam” itu memang benar kan ?!, soalnya lu bisa nikmatin melihat paha cewek ‘gratis’ tanpa harus bayar,sementara jika lu mau nikmatin paha ayam goreng didalem kaca sebuah toko makanan lu harus bayar, atau jika sekedar hanya melihat-lihat ,paha ayam goreng pun masih tersensor  oleh tepung .  Ironis  , tapi ya memang seperti itulah.
Mba mba yang cantik , Tanpa bermaksud mengitimidasi kalian kaum ‘penggemar’ rok mini atau hot pants , sejujurnya gue sebagai laki-laki normal  juga sangat mengagumi setiap jengkal dari bagian tubuh seorang wanita,buat gue semua itu keindahan, termasuk ketika tubuh kalian dibungkus dengan gaun tertutup yang tidak mengurangi keindahan estetika dari kalian sebagai seorang perempuan.
Gue sadar, wanita suka berbicara,suka berdandan, ekspresif , dan suka meningkatkan eksistensi dengan menunjukan segala keindahan yang ada pada dirinya, itu wajar dan memang sudah menjadi kodrat dari seorang wanita. Tapi sekedar memberi sedikit pendapat, kami-kami para lelaki juga sedikit ekspresif, tapi mungkin tidak dengan cara-cara yang digunakan oleh kaum perempuan , kami tidak suka berbicara,berdandan,atau menunjukan keindahan, tapi langsung bertindak, bahkan terkadang ada yang sifat ekspresifnya tidak terlihat sama sekali,tapi ‘sesuatu’ dibalik celana lah yang bereaksi sambil mencoba menahan air liur yang mau tumpah karena efek jakun yang turun naik.
Sadarkah, kalian telah memberikan kami sarana untuk menambah kuantitas dosa kami dalam bentuk zina mata ,mungkin mba-mba beruntung jika masih bertemu laki-laki dengan sifat kaya gue yang mudah-mudahan sebisa mungkin masih bisa berfikir rasional untuk mengatasi gelombang syahwat  yang meledak tanpa melukai kalian ,  tapi apa jadinya ketika kalian  bertemu  dengan seorang laki-laki ‘kurang waras’ yang jiwanya memang sakit dan tidak tau tempat.? Apa kira-kira yang bakal mereka lakuin ke kalian ?!
Mungkin beberapa kasus pemerkosaan atau bentuk-bentuk pelecehan pada kaum wanita di tempat-tempat umum gue rasa faktor penggunaan busana yang dipakai si korban punya pengaruh besar pada kejadian itu. *ini hanya kemungkinan yang gue kira aja*
Gini loh mbak-mbak yang cantik,gue Cuma bisa membuat sejenis ekspresi berbentuk peringatan kesadaran melalui tulisan singkat kepada kalian tanpa bermaksud mengintimidasi dan memaksa kalian untuk menyadarinya secepat mungkin.
Pernah denger kan petuah orangtua dulu yang “mencegah lebih baik daripada mengobati”,  alangkah mudahnya dan murahnya kalian untuk membantu mencegah penyakit-penyakit pada jiwa mesum laki-laki dan mengurangi intensitas kasus pelecehan wanita yang sedang marak saat ini,salah satunya adalah dengan tidak menggunakan rok mini ditempat umum yang dapat memancing ‘keinginan’ seorang pria sakit jiwa melakukan ketidak senonohan.
Jika sudah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan , trus kalian harus menyalahkan siapa ?! apa tetap menyalahkan kami sebagai laki-laki yang salah . ‘tak akan ada asap jika tak ada api’ itu juga pepatah yang pantas digambarkan untuk kami jadikan sebagai alibi ketika di vonis salah.
Berkacalah pada sebuah cermin besar dan liat dampak dan akibat nya, jangan biarkan jiwa dan pola pikir kita diperkosa oleh budaya-budaya barat yang tidak cocok kita gunakan di wilayah timur, lagipula jakarta ini panas mba, apa mba mba gak sayang paha putih mulusnya harus direlakan untuk dijilati oleh panas matahari,apa mba gak sayang juga jika pahanya jadi pandangan gratis oleh mata-mata liar laki-laki. Masih banyak pakaian tertutup yang bisa dipakai yang tidak mengurangi keindahan tubuh anda para wanita indonesia.
gue cuma mengungkapkan pendapat aja tanpa bermaksud meng-intimidasi atau mengajarkan ,semoga semua menjadi aman dan nyaman juga bermanfaat .
JUST MY OPINION as A MAN !!

jadi jangan ada yang tersinggung ya ^^b

@rizkiierezkiie
-mahasiswa galau semester akhir-

2 comments on “KETIKA ROK MINI BERAKSI . Trus Siapa Yang Salah ?”

  1. bener tuh.. 😀
    Sebagai cowok normal, wajar aja kalau kita ngelihat cewek pake rok mini kayak yang loe lakuin. Mereka itu (kaum Hawa) sudah terdoktrin untuk menjadi penikmat kaum adam meski hanay sekedar zinah pandangan #SOKTAHU
    mampir yo ke blog gue, jangan lupa follow+komennya gue tunggu!! #MAKSA
    http://abortusjahilius.blogspot.com/
    udah gue follow blog lo, gue tunggu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *