Pada lorong yang gelap itu, hanya ada aku dan kamu. berjalan lurus mencari cahaya, yang kata kamu ada tepat diujung lorong ini.


“Hei, Apakah ujungnya masih jauh?” Tanyaku yang berada dibelakangmu hanya beberapa meter saja.

“Jangan tanya aku. Mana aku tau. haha.” Kamu menjawab sambil tertawa. Tawanya menggema menyusuri seluruh dinding di lorong ini.

“Jangan bercanda, kamu kan yang mengajakku kesini. Kamu bilang ini adalah jalan yang tepat menuju cahaya.” Kakiku mulai pegal dan hatiku sedikit kesal.

Kamu menyalakan korek api dan membakar sebatang rokok, “Menurut cerita Ayahku, lorong ini sangat panjang. Bahkan kita bisa melewatinya selama bertahun-tahun. Hehe.” Tawa renyah yang kamu lontarkan itu semakin membuatku kesal.

“Hah, bertahun-tahun? Kamu sudah gila ya. Bagaimana kita mampu berlama-lama ditempat ini. Bisa mati kita!” Aku mulai cemas.

Kamu menghisap rokok dalam-dalam, kemudian membuang asapnya kearah atas dan asapnya mengebul dekat kepala. sebagian orang percaya, ketika seorang yang tengah merokok lalu ia menghembuskan asapnya ke atas, berarti perasaan si perokok sedang dalam keadaan senang, setidaknya saat itu.

“Tenang saja, Tidak sedikit juga kok yang mampu melewati lorong gelap ini hanya beberapa tapak saja, ya meskipun kebanyakan orang-orang keburu merasa lelah dan memutuskan berhenti ditengah-tengah.” Katamu tenang.

“Kemudian bagaimana nasib orang-orang yang memilih berhenti melakukan perjalanan ini?” Tanyaku.

“Ya mereka mati disini. Hehe. Bukan tidak mungkin ada tengkorak kepala manusia yang saat ini sedang kau injak.” Kamu berbicara santai saja, seolah semua kondisi ini adalah hal yang terlihat normal.

Aku seketika memeriksa kaki, memastikan tidak ada tengkorak yang terinjak seperti katamu barusan. Tapi sepertinya percuma, lorong ini sangat gelap, kaki ku hanya bisa kuraba dan kurasa, tanpa bisa terlihat.

Kamu membuang sisa rokok yang baru setengah terhisap itu, memutar badan dan berjalan ke arah ku. dan ketika sampai persis dihadapanku, kamu langsung memegang kedua pundak ku dengan genggaman yang cukup erat. Cukup erat untuk membuat roti menjadi remahan.

“Aku, kamu, saat ini sama seperti orang-orang terdahulu itu, sama-sama tengah berjalan. berusaha mencari cahaya, berusaha menuju tempat yang lebih terang dan lapang. Jika kamu lelah dan memilih untuk menyerah, silahkan kamu berhenti disini saja atau putar balik ke arah sebelah sana jika mau, mumpung belum terlalu jauh, disana juga ada cahaya, namun seperti yang ketahui, cahaya disana redup. dan sementara itu, aku akan terus berjalan ke arah sini, tidak peduli berapa lama waktunya. Atau bahkan mungkin ketika setelah sekian lamanya aku juga belum menemukan cahaya terang itu, aku tidak perduli. Sungguh. Aku hanya menyukai perjalanan ini, dan bisa merokok didalamnya juga sudah cukup membuatku senang.”

Setelah berkata seperti itu, kamu berbalik badan, membakar sebatang rokok kembali, menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskan semua asapnya ke arah atas, kemudian melanjutkan perjalanan.

aku terpaku, tidak mampu menentukan arah.


source gambar:

http://2.bp.blogspot.com/-rr2_LHkKL6w/TqafWHWDkzI/AAAAAAAABnQ/k60lGGpz4PQ/s1600/lorong+gelap.jpg

4 comments on “LORONG (YANG KATANYA) MENUJU CAHAYA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *