Kepadamu, Mei. 

Hari ini mungkin aku tidak banyak mengingat tentangmu, tapi sungguh aku tidak lupa.
aku mencoba banyak membaca, mencari tahu, berusaha mengembalikan memory yang hampir hilang diperkosa lupa.
Kepadamu, Mei.
saat itu aku baru duduk dibangku kelas dua sekolah dasar. Leherku yang masih dililit dasi karet berwarna merah dan kepalaku yang ditutup topi berwarna bendera negara, belum cukup mampu mencerna berita dan realita. 
Ketahuilah olehmu, Mei.
saat itu padahal aku sangat ingin sekali tahu apa yang sedang terjadi padamu, tapi jangankan membaca koran, menonton televisi saja ayahku bilang “Jangan!”.
aku coba bertanya pada beliau ‘Kenapa jangan Yah? ‘, beliau hanya menjawab. “Nanti pada waktunya, rasa penasaranmu yang akan memberitahumu sendiri, sekarang kamu lebih baik tidur, warna kita akan membuat kita baik-baik saja. “
aku mengangguk, tapi tidak mengerti. 
Dear, Mei. 
saat ini aku sudah banyak membaca, itu mampu menyegarkan ingatanku untuk terus melawan lupa. 
Dear, Mei. 
aku sungguh gemetar , antara merinding takut dan kesal ketika mengetahui jawaban rasa penasaran, apalagi ketika membaca bab dimana karena warnamu membuatmu diacuhkan, diasingkan, di’hitam’kan. disemayamkan secara kasar. 
membayangkanmu dipaksa melepas pakaian, warnamu dicoreng benda tajam, tak hanya tubuh, jiwamu pasti juga kesakitan, jauh lebih sakit dari perasaan sakitku yang padahal hanya sedang membayangkan.
Ketahuilah olehmu, Mei. 
Pagi ini, tidak lagi sama dengan hari pada 16 tahun lalu kala itu, warna tak lagi menjadikan seseorang berperan sebagai siapa musuh siapa pahlawan. kita sudah bisa berdampingan, bergandengan tangan, berpelukan atau malah menciptakan keturunan dari persilangan warna.
Ketahuilah olehmu, Mei. 
aku sebagai pemilik warna selainmu, hingga kini masih heran bahkan mungkin marah. seharusnya tidak perlu ada kotak, tidak perlu ada warna yang mengotaki atau dikotakkan. seperti sekarang ini, bukankah indah? 
Biarlah ya, Mei.
Semoga kamu menjadi pelajaran, menjadi catatan sejarah yang tidak perlu pengulangan. 
Semoga kamu yang telah pergi bermandi api akan tetap terang dikehidupan lain. 
Amin. 
Aku, yang akan selalu #MenolakLupa padamu. 
Mei. 
-@shamposachet

8 comments on “Mei”

  1. What a great story om shamposacheeeeet. Kesannya berusaha menceritakan suatu kejadian berat tetapi dengan ringan gitu ya. Jadinya bikin surat (cinta). Jadi ikut trenyuh bacanya, meskipun sampe sekarang hanya membaca potongan-potongan cerita Mei lalu, masih belum mengerti betul runtutan kejadiannya :))

    • :’)

      kata-kata itu untuk mengenang tragedi kemanusiaan kaum’Fankui’ 13 mei 98. ngebaca cerita-cerita sejarahnya lagi bikin ngeri sama kesel. gak abis pikir :”)

      semoga gak akan keulang hal serupa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *