Saya sedang memperhatikan layar handphone sambil tersenyum getir, rasanya ingin memaki diri sendiri. sudah saya coba, tapi tidak berhasil.

Ya sudahlah, lebih baik saya membaca tulisan yang teman saya buat untuk saya. Tulisannya tidak bagus, bahkan terkesan berantakan dan tanpa makna apa-apa. Saya peringatkan saja untuk kamu yang berniat melanjutkan membaca sampai akhir. Teman saya ini bukan seorang penulis, ia hanya seorang pemalas yang suka membaca, itupun ia lakukan jika ia sedang tidak melakukan apa-apa. Bisa dibayangkan betapa buruk tulisannya? Ya, tetapi jika kamu memang berniat untuk menghabiskan waktu dengan hal yang sia-sia, saya akan meng-copy tulisan tersebut lalu mem-paste-nya di tulisan ini, agar kamu bisa…ya minimal ingin ikut berkata kasar juga, menemani saya.

MONOLOG HARI-HARI MONOTON

Sebut saja namanya Sabtu, padahal ia lahir hari Selasa. Ia lahir disaat orang-orang sedang sibuk mengejar nafsu duniawi yang apalah redundant-repetition-taikucing itu. Sabtu lahir diawali dengan keinginan sang ibu untuk buang air besar di kala kumandang azan Subuh baru 10 menit berlalu. Tetapi karena buang air besar di hari selasa saat Subuh adalah hal yang normal, ketidak normalan pun sang ibu rasakan. Sang ibu merasakan sakit perut yang tidak biasa sampai jam 8 pagi, namun kekhawatiran sang Ibu bukan saja perihal akan lahirnya si Sabtu, melainkan sang Ayah baru akan menerima upah—yang tidak seberapa itu—dari sang atasan pada hari Kamis. Tetapi memang dasarnya Sabtu adalah anak yang tidak tahu beban dunia ini seberat menahan mata terbuka setelah begadang semalam suntuk, Ia memaksa lahir pada hari Selasa itu juga. Jam 10 pagi lewat 10 menit, Sabtu lahir sambil menangis. Ya benar, memang harus menangis, salah sendiri ia lahir bukan hari Kamis.

Sabtu tumbuh dengan kehidupan yang tidak normal tapi masih bisa dikatakan biasa saja. ya meskipun tidak bisa disebut normal, kedua orang tuanya selalu berusaha untuk menormalkan segala ketidak normalan tersebut. Tipikal orang tua yang tidak mau terlihat lemah di hadapan anaknya.

Sabtu tumbuh menjadi anak yang pintar namun tidak mudah bergaul. Setiap Senin ia selalu jadi bahan olokan teman-teman satu kelasnya karena selalu saja, ketika upacara bendera berlangsung, ia mengeluarkan keringat berlebih, ia menahan keinginan untuk buang air besar. Hampir setiap Senin. Tapi Sabtu tidak peduli, meskipun memiliki teman adalah sebuah hasrat normal sebagai makhluk sosial, baginya sendirian pun tidak apa-apa. Karena ia selalu mengingat pesan Ibunya, bahwa nanti ketika mati, kita juga akan memiliki lubang lahatnya sendiri-sendiri. Tanpa satu temanpun.

Sampai duduk di bangku sekolah menengah umum, Sabtu masih tidak mudah bergaul, karena teman-temannya menganggap bahwa Sabtu bukan anak yang tepat untuk diajak merokok di kantin sekolah atau Sabtu bukan teman yang berani melompati pagar sekolah karena bosan dengan pelajaran duniawi yang toh nantinya juga tidak akan berguna-guna amat di kehidupan nyata.

Tidak, Sabtu pernah bercerita kepada sahabat imajinernya—sebut saja Jumat–. Sabtu bukannya tidak berani merokok di kantin atau melompati pagar sekolah untuk bersenang-senang dengan kebanggaan semu khas anak SMU, tetapi ia takut orang tuanya kecewa dan marah karena membuang waktu yang dibeli dengan bulir keringat seluruh tubuh Ayahnya. Karena jika Ayahnya tahu Sabtu menyia-nyiakan uang jerih payahnya, Sang Ayah akan melemparkan kepalanya dengan kipas angin hingga rusak. Karena pernah sekali waktu, sang Adik—si Rabu—melompati pagar sekolah dan sang Ayah tahu, kipas angin sepanjang 80 cm lebih dihantamkan tepat di kepala Rabu. Sabtu yang lahir dengan segala kepengecutannya tidak ingin kipas angin kotak di kamarnya akan mengenai kepalanya juga. Lagi pula itu kipas angin kesayangannya.

Kemudian, saat kelas 2 sekolah menengah umum, Sabtu mulai menyadari bahwa kesendirian mungkin sebuah racun yang membuat ia ingin teriak sekeras-kerasnya untuk sesuatu yang sangat ia pahami. Kemudian ia mencoba mengubah cara hidupnya, ia belajar merokok, ia latihan lompat pagar sekolah– dengan catatan sang Ayah jangan sampai tahu, Karena Ia sangat menyukai kipas angin di kamarnya.

Sabtu berhasil, ia mulai memiliki teman-teman. Sabtu cukup senang, tapi bisa dikatakan tidak senang-senang amat, toh baginya kesendirian tetap lebih menyenangkan daripada keramaian tidak jelas ini. Ia hanya berfikir untuk memiliki, minimal beberapa teman saja untuk sekedar berbicara menghabiskan waktu istirahat sekolah.

Kemudian Sabtu menemukan masalah baru, yang banyak disebutkan di hampir sebagian lirik lagu yang beredar dan meracuni telinga-telinga manusia, atau buku-buku melankolis menyayat hati yang sesekali waktu ia baca. Masalah baru timbul, karena jangankan memiliki teman lawan jenis, yang sejenis saja susahnya seperti menanam jagung di pot plastik berukuran diameter 10 cm.

Sabtu berusaha menolak, tapi ia ingat satu hal, mengapa ketika mati nanti, bagian tubuh yang akan hancur terlebih dahulu adalah perut dan kelamin. Karena di dua tempat itulah, manusia dapat melupakan keindahan surga yang diceritakan oleh ustad-ustad atau guru mengaji saat kecil.

Dan, Karena ia lahir dengan keinginan normal, Sabtu tidak dapat menolak.

Sampai saat ini, entah sudah Berapa kali Sabtu merasakan dadanya seperti di akupuntur, tetapi ia tidak pernah kapok. Atau lebih tepatnya, ia belum cukup sakit, selama kipas angin belum hancur tepat di kepalanya, rasa sakit hanyalah cerita fiksi buatan manusia melankolia, katanya sombong.

Sampai pada suatu pagi buta di hari Minggu, Sabtu merasakan kesal yang amat sangat kepada dirinya sendiri yang memilih hidup ekstrovert hanya untuk meninggalkan kesendirian yang ia jalani dari kecil.

“HALAH TAYKUCING!” Makinya di depan cermin.

Setelah puas memaki diri sendiri, ia menyalakan kipas angin—tapi bukan kipas angin kesayangannya—menekan angka 2 untuk angin sedang, membuka seluruh pakaiannya hingga telanjang, menyalakan komputer jinjing, menekan dua kali tombol klik kiri pada mouse di icon berbentuk serupa kertas muncul dari buku berwarna biru dengan huruf W besar ditengah.

Dan masih dengan keadaan telanjang, di depan kipas angin yang angka 2 nya ditekan, sambil sedikit memaki di dalam hati ia mengetikan sebuah cerita, yang ia mulai dengan kalimat “Saya sedang memperhatikan layar handphone sambil tersenyum getir, rasanya ingin memaki diri sendiri. sudah saya coba, tapi tidak berhasil.”
.
.
[R.E.M 01.10.06]

9 comments on “MONOLOG HARI HARI MONOTON”

  1. Yawlah otak aku mau mimisan rasanya yawlah..
    Ternyata si Sabtu sebenernya si… ah yasudahlah. :((
    Salam buat Sabtu ya, A’. Bilangin ke dia jangan cepet senin kubenci~

  2. Astaga, ini bacanya aku bingung karena aku ulang beberapa kali dulu baru agak mengerti. Eh ternyata si sabtu itu adalah……

    ahh ahh taykucing hihihi…..
    Bagus ihh cakep cakep cakep…tulisannnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *