INTERVIEW KERJA [PART 2]

tulisan ini sequel dari tulisan sebelumnya yang berjudul “INTERVIEW KERJA PART 1

“Ky, tadi dicariin sama Bang Arfi. katanya disuruh kasih lamaran ke dia nanti malem.”

gua mendadak bingung.

“Bang Arfi? ah kenapa gak dari kemaren sih”

“Ya, Mama juga baru banget tadi dia kesini ngasih tau”

“Yaudah deh ntar malem Ky ke rumah Bang Arfi. ah ada-ada aja dah”

 

Btw, Bang Arfi (bukan nama sebenarnya—soalnya gua masih mau dianggap saudara) ini adalah saudara gua. Jadi hubungannya gini: tetangganya kakek gua sama tetangganya kakek dia sama-sama tetanggaan. Maka dari itu kami ada hubungan kerabat atau saudara. Apaan! Hehe enggak enggak, gua sama bang Arfi adalah saudaraan karena Kakeknya dia sama kakek gua adalah adik-kakak.

Bang Arfi ini adalah seorang karyawan di salah satu pabrik kosmetik (minyak wangi, minyak rambut, minyak muka, dll). Jabatannya juga sudah ‘lumayan’ di pabrik tersebut, dan sudah banyak temen-temen gua (termasuk adik gua) yang direferensikan dia untuk bekerja di Pabrik tempat dia bekerja, dan biasanya pasti diterima kalau ‘bawaan’nya dia.

Kasus disini bukan berarti suatu sikap nepotisme dalam sebuah perusahaan, karena Bang Arfi ini memang Cuma berniat membantu dengan tanpa pandang dia saudara atau bukan, dia Cuma tidak mau melihat anak-anak di kampung gua ini banyak yang jadi pengangguran. Itu aja.

Dan pada suatu hari yang gua lupa kapan, gua pernah sekali ketemu dan mengobrol banyak dengan Bang Arfi mengenai lowongan pekerjaan. Dia bilang nanti kalau memang ada, gua bakal dikabarin, karena untuk saat ini belum ada posisi kosong. Ada sih tapi sebagai operator pabrik, dia gak tega kalau gua harus bekerja sebagai operator, maka gua disuruh nunggu kalau ada nanti lowongan di kantor yang kosong.

“Nanti deh Ky kalo ada lowongan, abang kabarin. Ky siapin aja ya surat lamaran kerja, nanti kalau suatu waktu ada, ntar abang ’bawa’.” Kata Bang Arfi ke gua sekaligus menutup pembicaraan kami waktu itu.

Dan pada hari dimana gua baru saja menyelesaikan test interview di PT. H*****ter (25 Juni 2015) yang hasilnya gua sudah diterima sebagai karyawan disana dan sudah bisa mulai bekerja pada awal bulan Juli. ternyata gua dikabari kalau di tempatnya Bang Arfi sedang ada lowongan kosong untuk kantor dengan posisi sebagai staff admin.

Maka galaulah gua dibuatnya.

(more…)

INTERVIEW KERJA [PART 1]

Rabu Sore, 24 juni 2015.

Handphone gua berdering, ada panggilan dari nomor yang tidak gua ketahui. Karena penasaran siapa yang menelepon, maka dengan sigap gua segera menggeser notifikasi panggilan ke arah warna hijau.

“Halo.”

“Halo selamat sore, dengan Bapak Fikry?”

Terdengar suara wanita di seberang telepon dengan bahasa formal seperti bahasa costumer service bank atau leader-leader MLM.

“Iya, sore. Tapi maaf Bu, saya Rizky bukan Fikry.” Jawab gua dengan suara rendah dan sedikit bingung.

“Oh iya maaf Pak Vicky.”

“Rizky Bu.”

“Kiki?”

“Iya deh Bu, nama saya Kiki, maaf sebelumnya ada perlu apa ya Bu?”

gua pasrah, padahal dalam hati gua “yaudah deh terserah Ibunya aja, hayati lelah”

(more…)

PROBLEMATYKA

Kamis, 9 Juli 2015.

Pukul 13:05


Siang hari ini masih sama seperti siang-siang sebelumnya, ya. masih sama-sama ada mataharinya.

Gua sedang duduk bengong diatas kasur di tempat tidur kayu (di daerah gua disebutnya; dipan), gak bisa terlalu banyak gerak soalnya dipan kayu kasur gua ini sudah rapuh. mungkin karena kayunya sudah tua, dan memang, beberapa kali sempat ambruk. Iya, ambruk disaat gua lagi tidur lelap. Tiba-tiba ‘BRUAAK’, kasur gua ambruk. dan gua jatoh ke bawah. ya, beneran asli, gua jatoh kebawah. karena yang ke atas itu terbang.

Dan saking tuanya dipan sama kasur gua ini, kapuk-kapuknya tuh sampai pada ubanan. warnanya putih semua. Lagian ya, emang ada apa kapuk selain warna putih?! warna ungu laut gitu? Pasti keren kalo beneran ada.

(more…)

KONDANGAN SENDIRIAN

Dateng ke acara kondangan sendirian.

Gak ada partner.

Gak ada tamu.

Gak ada prasmanan.

Eh,

Ternyata emang gak ada yang nikah.

Gue nya aja yang iseng.

*Tiba-tiba masa depan mendadak kelihatan suram*


Minggu, 17 mei 2015.

Sahabat gue jaman SMA (cewek) melangsungkan acara pernikahan. dan sebagai sahabat yang baik dan berbudi pekerti luhur, gue pun harus datang. Gue gak ada masalah sama sekali buat datang ke acara pernikahan dia (kondangan), bukan gak ada masalah sih, ada. Tapi Cuma satu masalah, dan cukup sulit buat dipenuhi. Yaitu, memenuhi permintaan dia seperti yang tertulis di depan kartu undangan;

Kay dan Partner

Di

tempat.

(more…)