SAMPAH-SAMPAH YANG BERHARGA

“Gue senang mengoleksi kenangan,

Karena, mengenang adalah hal yang mengasyikan”


Sabtu, 21 Maret 2015.

Hari ini gue melakukan kegiatan yang sudah direncanakan kurang lebih dari dua minggu lalu. kegiatan yang selalu ditunda dengan kalimat “ntar aja deh, abis ini.”, Yang nyatanya ‘abis ini’ tuh gak pernah ada. Karena setelah ‘ini’ akan selalu ada ‘ini ini dan ini’ yang lain yang sepertinya gak habis-habis. Kalaupun dalam sehari ada ‘ini’ yang habis, pasti akan tertunda lagi dengan kata “besok aja deh.”, terlalu banyak melakukan ‘ini’ nyatanya bikin capek.

Dan pada hari ini, gue berencana melakukan ‘ini’ yang sudah lama ditunda tersebut. Ya, hari ini gue mau beres-beres kamar. memberesi barang-barang yang ada dikamar lama untuk gue pindahin ke kamar yang baru. seperti yang gue tulis di bulan Februari lalu, kini rumah gue sudah bisa ditempati, belum terlalu layak mungkin, tapi cukuplah untuk gue tempatin sendiri. Iya, sendiri. aelah.

Di kamar lama gue memang banyak barang yang (sebenernya) sudah enggak terpakai lagi. Sebagian ada yang gak sengaja ke simpan dan menjadi sampah, tapi sebagian lagi memang sampah yang sengaja gue simpan. Oleh karena itu banyak yang harus dipilah-pilih.

(more…)

DIAM

Lelaki itu merebahkan tubuh pada kasur lantai di kamarnya. kasurnya sangat tipis serupa tikar, hanya mungkin agak sedikit tebal, tanpa seprai, hanya kasur saja.

Kemudian ia melipat kedua tangannya, menaruhnya dibelakang kepala dan membentuk bantalan untuk dijadikan sandaran kepalanya. Ia diam sejenak, menghela nafas panjang, sepanjang dan sedalam ia bisa, menghembuskannya keras-keras. lalu kembali diam.

Tidak ada yang ia pikirkan, hanya diam.

Matanya nanar menatap langit-langit kamar. mata yang tepian bawahnya hampir melebam dipukul lelah karena sudah berbulan-bulan lamanya ia dihantui insomnia berkepanjangan. Segala ngantuknya selalu ia berhasil kalahkan dengan pikirannya. Pikiran yang mungkin tidak memikirkan apa-apa.

Lelaki itu menutup matanya sejenak, mencoba menerjemahkan malam yang bising oleh suara air hujan yang memukuli atap rumahnya, berusaha untuk tidak memperdulikan dingin yang berkumpul didalam kamarnya.

Tak lama kemudian ia membuka mata, bangkit dari rebahnya, lalu mengambil secarik kertas dan menuliskan sebuah kalimat

“Mungkin sudah tiba saatnya aku mundur, tidak berusaha ikut dalam euforia. cukup diam dan melakukan aktivitas berbeda.”

HARI-HARI FEBRUARI

Gue baru aja menjalani 28 hari yang penuh dengan pilihan. Februari.

Sebagaimana harusnya kehidupan, ada banyak pilihan dan perubahan. bahkan ada yang menyakup keduanya, pilihan untuk perubahan. Atau lebih tepatnya sebut aja ‘gue milih untuk merubah’. Ya, gue milih untuk merubah.

Merubah apa? Muka? Gak mungkin. muka gue masih dan akan tetap di settingan defaultnya, settingan pabrik, pabrik biji besi, besi tua.

Beberapa kali gue pernah menulis kegalauan gue tentang alur hidup yang gini-gini aja, yang gitu-gitu aja, yang flat kek tivi jaman sekarang. Oleh karena itu, pada bulan ini (akhirnya) gue berani membuat suatu keputusan. Yang bisa dibilang ini adalah sebuah keputusan nekad. Kenapa nulisnya nekad? Karena kalo naked artinya telanjang, mang ada apa yang mau liat gue telanjang? Terakhir ada yang ngeliat gue telanjang matanya langsung minus 14 derajat farenheit.

Lucu gitu? Kagak!

Oke serius.

Minggu terakhir Januari gue udah mulai ngerasa jenuh sama alur kehidupan yang gue jalani, alur kehidupan yang ‘Bangun tidur – Mandi – Macet-macetan – Ngantor – Macet-macetan – Gak Mandi – Tidur’ seperti yang pernah gue tulis di sini. Dan gue merasa pada bulan Februari ini adalah puncaknya, puncak dimana semua kejenuhan itu berada di titik 100, titik paling atas dari hitungan nilai jenuh menurut gue. Dan gue pun merasa harus merubah itu semua.

Gue cerita sama nyokap kalo gue udah bete sama kerjaan gue, gue mau ngerasa hal yang baru, kegiatan baru, atau mungkin… pekerjaan baru. Setidaknya ada hal baru yang gue lakuin.

(more…)

KANGEN GITARAN

malem minggu. udah rencana banget malem ini pengen tidur eh diluar malah ujan deres, naluri tukang ojek payung pun gak bisa gue hindari. Abis gimana ya, buat gue ngojek payung itu bukanlah untuk cari uang, karena gue ngelakuin ini semata-mata untuk ngejar passion. Maka apapun gue lakuin untuk itu.

Btw, gue mau kasih tau satu hal nih, kalian itu baru saja membuang waktu 3-5 detik untuk membaca 2 paragraf yang gak penting ini. Gue ucapkan selamat.

Gue suka banget musik, tapi gue gak bisa main musik. Bisa sih main gitar, tapi Cuma sekedar genjrang-genjreng gak jelas. kalo yang mainnya dipetik gue gak bisa, soalnya gimana mau metik kalo gue aja gak bisa manjat. Eh gimana?

(more…)