Ada hal yang harus dilakukan ketika sejauh apapun seseorang PERGI,

yaitu PULANG”

Karena sudah lama ‘pergi’, agar tidak merasa asing, sepertinya saya harus memperkenalkan diri lagi.

Langsung saja, nama saya Rizky, saya tidak perlu memberi tau nama panjang saya, karena sepertinya kamu juga tidak terlalu ingin tau. Kamu boleh panggil saya Kay –seperti yang lainnya–. Saya termasuk ke dalam spesies manusia yang tidak bisa memakan buah-buahan dan sayuran, bukan tidak suka, tapi memang tidak bisa. Entah kenapa leher saya selalu menolak untuk dimasuki buah-buahan.

Pernah suatu ketika, saat saya masih SMP ada pelajaran Biologi yang diharuskan untuk membedah buah Apel. Setelah selesai praktek, semua siswa memakan Apel (sisa praktek) dan saya pun jadi penasaran “Apa sih rasanya makan buah?”. Sayapun ke kamar mandi membawa sepotong kecil buah Apel. Di kamar mandi, saya masukkan potongan apel ke mulut dan saya kunyah dengan paksa, ketika saya berusaha untuk menelan potongan Apel itu, saya langsung merasa mual dan seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari leher saya dengan cara mendesak, muka saya mengerenyit seperti ekspresi habis mengendus bau kaos kutang yang 3 hari dipakai enggak ganti-ganti, lalu air mata sayapun keluar sendiri tanpa perlu diwhatsapp “Wey gua udah di depan ni, keluar dong!” dulu. Ya, saya muntah. Semenjak itu saya jadi mengambil suatu kesimpulan bahwa buah apapun yang saya makan, nanti yang akan keluar dari mulut saya adalah ‘bumbu ketoprak’. Sayapun berhenti untuk mencoba memakan buah, lagi. Kalo masalah memakan sayuran, saya hanya tidak suka saja, udah. He he~

Oh iya, saya juga tidak terlalu suka makan pecahan lampu. Alasannya sederhana, selain leher saya jelas akan menolak, saya juga tidak dilahirkan untuk bercita-cita menjadi atlit kuda lumping. Lagipula saya takut, karena waktu masih SD, saya pernah mendengar cerita bahwa ada salah satu atlit kuda lumping di dekat rumah saya, selesai show makan pecahan lampu, malamnya dia buang air besar, dia kaget, soalnya kotorannya nyala. saya takut aja, pas saya abis makan pecahan lampu, terus saya boker dan saya kaget pas liat ke wc “Ya anjir, tai gua kok nyala!”. ngeri~

Sekarang, usia saya 28 Tahun atau saya lebih senang menyebutnya ‘Level 28’. Banyak teman-teman yang tidak percaya dengan angka tersebut ketika saya bilang kepada mereka. Entah, mungkin karena bentuk tubuh saya yang kecil, imut dan menggemaskan ditambah pula dengan wajah yang cute seperti mengkudu jatoh, itulah yang membuat mereka masih mengira saya berusia sekitar 23 atau 24 tahun.

Mantap!

Sebenarnya jika boleh membeberkan sedikit rahasia, alasan saya menumbuhkan kumis dan jenggot di wajah adalah agar supaya ‘terlihat sesuai usia’. Tapi setelah 2 tahun brewokan hasilnya tetap sama aja hhh~. Malahan saya sering dibilang “Dih, kayak Jenglot Lo, kecil-kecil jenggotan,!”

Hasyem~

Saya tinggal di Bekasi, cuma saat ini sedang sibuk menyesuaikan diri melawan kerasnya kehidupan yang bergelimang sadness ini di daerah Bintaro, Tangerang Selatan.

Ketika saya menyebutkan tinggal di Bekasi, rata-rata semua orang menyangka saya ‘Alien’, karena bagi mereka Bekasi itu seolah planet lain di luar galaksi Bima Sakti alias jauh. Padahal menurut saya sih Bekasi itu gak jauh, tapi JAUH BANGET WOOYYY!

Saya tinggal di rumah (yang di Bekasi) dengan Ibu, Adik dan Adik saya, juga dengan Ayah saya, tapi sejak tahun 2013, Ayah saya izin pergi untuk ‘dinas’ ke luar rumah dengan waktu yang tidak bisa saya perkirakan. Jadi, untuk sementara saya yang meneruskan perjuangan Ayah saya menjaga keluarga kecil ini. Eh tapi kamu jangan malah jadi sedih membaca kata-kata tadi, karena saat saya sedang menulis ini, saya sedang merasa senang, soalnya kemarin baru saja gajian hehe~

Di Bintaro, saya tinggal di sebuah rumah yang saya kontrak bersama dengan 4 teman kantor saya, setelah sebelumnya sudah 2 kali pindah kost-kost’an.

Kost pertama saya di sebuah pemukiman daerah Pondok Aren, kost’an 1 petak, kamar mandi di luar dengan harga 400.000 sebulan (exclude biaya listrik). Saya tinggal di sana cuma sekitar 6 Bulan, terus saya pindah. Alasan saya pindah dari sana adalah Hmm… karena selain jaraknya yang lumayan jauh dari kantor, kondisi geografis di sana juga cukup merepotkan saya. 36 ‘polisi tidur’ dari awal pintu masuk komplek sampai pintu kost’an, ditambah dengan 2 tiang listrik yang berdiri di tengah jalan di jalan kecil menuju kost’an, juga jarak yang jauh dari kost ke jalan raya bikin saya sering males buat keluar kalau sudah sampai di kost. jadi, kalo kiranya saya merasa lapar pas malem-malem, obatnya cuma ngelus-ngelus perut sambil bilang “Tenang ya nak, sebentar lagi pagi, kok~”

Kost kedua lebih dekat dari kantor. Kalau jalan kaki kurang lebih 5 menit, kalau naik motor cuma sekitar 3  menit, kalau naik pesawat bisa 1 jam lebih, soalnya kan mesti ke Bandara dulu.

Awalnya, saya baik-baik aja dengan tempat kost kedua ini, sampai saya tahu kalo si Kakak yang punya kost adalah penyuka musik sejati-banget-parah, yang sampai-sampai setiap hari dengerin musik tanpa kenal waktu (kadang pagi banget, kadang siang-bolong-pas-lagi-panas-panasnya, kadang malem banget-ya-Tuhan). Beliau selalu dengerin musik dengan suara yang bikin tidur gak bisa tenang kayak lagi nunggu istri lahiran, ya… meskipun saya belum punya istri.

Dan kejadian yang paling absurd yang saya alami di kost itu adalah, suatu ketika saya pulang kerja dan saya kaget “Kok di depan kontrakan saya banyak banget orang dan motor parkir gini!”. Para barisan orang dan motor tersebut saya terobos pelan-pelan dan ketika sampai tepat di gerbang rumah, kedengeran suara musik reage kenceng banget dan terpampang nyata bendera warna merah-kuning-hijau segede cicilan-apartemen-di-Jakarta-pusat tepat dipasang di depan pagar kontrakan. Dan jelas saya tidak bisa masuk, karena banyak orang yang lagi joget-joget-giting. “YA TUHAAANN!” kata saya dalam hati.

DI HALAMAN KONTRAKAN YANG SEPETAK GINI KENAPA NGADAIN KONSER REAGEEEEE WOYY!!!

Yang akhirnya malam itu, saya balik lagi ke kantor dan jadi tidur di kantor. Itu sungguh absurd dan SURAM BOSS!!

Agustus 2017, saya dan 4 teman kantor yang lain memutuskan patungan untuk mengontrak sebuah komplek di Bintaro sektor 1 dan ya, masih tenang-tenang saja sampai sekarang. Kecuali pintu kamar mandi yang semuanya gak bisa ditutup rapat, air yang tidak terlalu bersih dan pak RT yang selalu “patroli” di depan kontrakan. Kalo dirasa perlu, kapan-kapan saya ceritain tentang pak RT komplek saya ini yang mirip bapa-bapa di film serial animasi ‘Adit Sopo Jarwo’.

kira-kira seperti ini penampakannya

Terakhir, Saya sudah selama 2 tahun ini bekerja di sebuah ‘Digital Ahensi’ di daerah Bintaro (that’s why saya gak tinggal di rumah Bekasi). Tapi mungkin perihal pekerjaan saya ini, akan saya ceritakan juga di tulisan yang lain karena akan terlalu banyak yang bisa diceritakan, itupun kalo dirasa perlu saja. he he~

Yah mungkin segitu saja yang perlu saya ceritakan sebagai perkenalan kembali diri saya yang sudah lama tidak pulang.

Suatu hari–yang saya lupa kapan, saya bertemu dengan seorang teman (yang saya kenal dari sebuah komunitas Blogger di Jakarta, teman yang selalu membiasakan diri untuk terus menulis setiap hari) di sebuah Mall di Bintaro, namanya Kresnoadi. Kami memang sering banyak mengobrol tentang apapun dan saat saya sedikit curhat mengenai saya yang sudah sangat lama tidak bercerita dengan cara menulis. Dia bilang

“Kalo emang udah lama berhenti, kalo mau ngulang, Lo harus ngulang bener-bener mulai dari awal lagi”

Makanya saya yang sudah terlalu lama pergi ini, berencana untuk ‘pulang’ ke tempat awal di mana saya ‘lahir’ di dunia maya, dan mencoba mengulang lagi semuanya dari awal. semoga rencana ini bisa terwujud.

Bahkan dari rencana ‘kepulangan’ saya ini, saya pun memutuskan memulainya dari ‘mengulang’ tumbuh kembang rambut saya dari awal, dari nol lagi. Dan jika kamu bersedia untuk menonton saya memangkas habis rambut bisa tonton di sini (jika bersedia saja. ehe~):

SELAMAT PULANG, SELAMAT DATANG, SELAMAT MEMULAI!

Regards

-R.E.M-

Comments (4)

  • Dian Hendrianto / 6 February 2018 / Reply

    Yg di mall bintaro itu kalo gak salah sempat ikut nongkrong juga, yg pas lagi makan malah ngomongin harga telor di bekasi dan jakarta beda jauh..
    Berfaedah sekali.

    Selamat pulang dan memulai kembali.

    • (Author) Rizky Exa Mardiansyah / 6 February 2018 / Reply

      Haha itu pas di Bintaro Xchange ya?

      thanks bg Dian, semoga balik lagi ngeblog terus hehe~

      kapan-kapan bole kita kongko lagi.

  • cndx / 6 February 2018 / Reply

    baca ini jadi pengen menulis hal-hal ga penting yang dirasa perlu aja he he he ~

    • (Author) Rizky Exa Mardiansyah / 6 February 2018 / Reply

      he he he~~

      btw makasi suda bersedia mampir tanpa diseduhin kopi~

Add comment