“2015 telah pergi

meninggalkan hutang-hutang resolusi yang belum terlunasi

meninggalkan puluhan mimpi yang mungkin sengaja mati suri atau terpaksa bunuh diri

meninggalkan rangkaian cerita yang membekasi relung hati dan kenangan tentang saya yang dipecundangi diri sendiri

2015, tentangmu, sepertinya banyak yang harus saya hapus dari memori.”

***

1 januari 2016

Setelah menghabiskan malam akhir tahun dengan senda gurau bersama teman sepermainan saat kuliah, saya pulang dengan membawa lelah menutup 2015 yang harus saya lewati dengan susah payah.

Seharian saya habiskan dengan tidur-tidur ringan di rumah sambil memikirkan apa-apa saja yang sudah saya lakukan dan alami di 2015. Yap 2015 mungkin jadi salah satu tahun yang harus saya jalani dengan banyak cerita yang cukup menguras nominal kesabaran yang saya punya. Banyak ujian dan cobaan yang saya alami di tahun itu.

Positive thingking saja, Mungkin Tuhan sedang sayang-sayangnya kepada saya.

Menilik lagi cerita-cerita usang dan membongkar lagi kisah—yang sebaiknya saya lupakan saja itu semua—yang saya alami di tahun itu.

Baiklah, karena sepertinya melupakan kenangan bukanlah hal yang mudah, maka saya putuskan untuk menyimpannya dalam sebuah tulisan dari rangkuman kejadian-kejadian tersebut, yang mungkin saja suatu hari nanti—entah kapan—ketika saya baca kembali, saya justru akan menertawai semuanya.

mungkin~

Tahun lalu dimulai dengan kekecewaan saya dengan seorang yang saya anggap sebagai teman dekat—karena hampir setiap hari kita main bareng.

Saat itu kebetulan teman saya tersebut baru saja membeli motor baru yang memang dari dulu saya ingin sekali punya motor tersebut, kemudian saya bilang sama dia untuk minta tolong carikan motor-motor second dengan jenis yang sama seperti yang dia punya. iya, bekas, karna untuk beli yang baru, saat itu uang saya belum sempat saya fotocopy.

Kemudian dia; yang memang adalah seorang anak bengkel, bisa terlihat dari rambutnya yang berminyak terus. Ia bilang sih itu efek gel minyak rambut, tapi saya yakin, kalau rambutnya itu terdiri dari 20% gel rambut sachetan dan 80% oli bekas.

Dia menawari saya sebuah motor dengan jenis yang sama seperti punya dia, namun keluaran tahun 2007, yang katanya kondisinya masih mulus dan bagus. Ya, karena saya yang kalau motor mogok malah meriksa kondisi kaca spionnya alias tidak mengerti perihal tetek-bengek motor sama sekali, dan dengan modal ‘masa iya, dia boongin gua sih’. Akhirnya saya beli motor itu seharga 8,3jt cash.

Namun sial, setelah saya beli, 3 hari kemudian motor tersebut mesti masuk bengkel entah masalahnya apa (lah wong saya nggak ngerti). hampir habis 700rb untuk biaya servis, sialnya motor tersebut hanya bertahan selama 2 hari, kemudian ngambek lagi. Saya bawa motor itu ke bengkel yang berbeda dan menurut yang punya bengkel motor tersebut sudah parah kerusakannya dan mesti banyak yang diganti. Perlu modal sekitar 1,5jt-3jt untuk menjadi rapi kembali.

Lah saya uang darimana, lagi?

Saya minta sedikit tanggung jawab dari teman saya tersebut yang merekomendasikan saya untuk beli motor itu, tapi sayangnya dia lepas tanggung jawab dan malah memilih untuk menjauhi saya. Kami tidak lagi jadi teman dekat (sampai sekarang) dan motor saya tersebut akhirnya dibeli oleh saudara saya yang dia mau menerima keadaan motor rusak saya tersebut (karena kasihan sama saya yang sudah dibohongi) dengan harga 6jt saja. Ya, saya rugi 3jt lebih dan kehilangan kepercayaan terhadap teman saya tadi. Kita resmi memutuskan tali persahabatan.

Pada bulan februari 2015, saya memutuskan untuk resign dari tempat kerja karena sudah jenuh menjadi ‘budak kapitalis’ dan berniat menjadi seorang wiraswastawan. Dengan modal 6jt yang tadi saya nekat membangun sebuah rumah kecil di sebidang tanah milik ibu saya.

Membangun rumah dengan modal uang 6jt rupiah hari gini? Mana cukup. Akhirnya sayapun nekat (lagi) menjual satu-satunya benda yang saya punya, yaitu motor matic yang mati-matian saya lunasi dari tahun 2012 dengan harga 7,5jt kepada seorang pemilik showroom mobil. Saya berat sebenarnya melepas ‘motor perjuangan’ saya itu, tapi….

Dan Total modal saya menjadi 13,5jt.

Singkatnya di bulan Februari, saya mulai membangun sebuah rumah kecil dengan sebuah warung dengan modal 12jt rupiah, sisanya saya pakai untuk modal warung dan sedikit saya simpan di lemari kamar saya dengan niatan sebagai uang back up-an untuk keseharian saya.

Warung saya berjalan dengan cukup lancar, ya meskipun terkadang sepi pembeli tapi lumayan untuk kebutuhan saya sehari-hari.

Sampai suatu ketika di bulan april, uang simpanan saya di dalam lemari, hilang. Dan saat itu yang saya ingat bahwa pada malam sebelumnya ada seorang teman saya yang main ke rumah. Dia di kamar saya menonton televisi dari sore sampai magrib. Dan karena dia teman saya dari masih kecil dan memang sering ke rumah untuk sekedar ngobrol, nonton tivi atau sesekali menginap. Maka saya tidak curiga sedikitpun ketika saya meninggalkan dia sendirian di kamar sementara saya mandi dan hendak sholat magrib.

Tapi. Lagi-lagi kepercayaan saya disalah gunakan. Esok harinya uang saya hilang, dengan penuh ke-suudzon-an ia saya temui dan jelas, ia tidak mengaku (karena kalau maling mengaku, nanti polisi jadi kurang kerjaan) dan saya—mau tidak mau—pasrah dan berusaha ikhlas atas kehilangan itu meskipun rasa kesalnya sampai ingin meledak di ubun-ubun. saya tidak punya cukup bukti untuk membuat dia mengaku, meskipun 100% saya yakin ia yang mencurinya, dan terbukti. sampai saat tulisan ini saya buat, dia sekalipun tidak pernah ke rumah saya lagi, bahkan jika tidak sengaja bertemu di jalan dia sudah tidak menegur saya, saya pun juga. Malas sekali menegur TTM (Teman Tapi Maling).

Sekitar bulan Juni-Juli, warung saya mulai sepi dan sudah hampir kehabisan modal. Sayapun mati-matian melamar kerja sana sini untuk usaha menutupi kebutuhan hidup. Namun memang belum rejeki saya untuk mendapatkan pekerjaan, modal warung saya habis. Saya bangkrut total. Bahkan idul fitri tahun 2015 menjadi hari lebaran yang paling menyedihkan untuk saya. Saya tidak sanggup membeli apapun, terlebih hanya untuk sebuah kaos baru.

Kesedihan saya bukan karena tidak mampu membeli barang baru, melainkan saya yang saat ini harusnya sudah bertanggung jawab sebagai kepala keluarga di keluarga saya (menggantikan tugas almarhum ayah), malah tidak bisa membelikan apa-apa untuk ibu dan kedua adik saya. Saya sedih sekali. Sejujurnya saya hampir depresi menghadapi semua itu. Ditambah dengan hubungan percintaan long desperate relationship saya yang harus berakhir di bulan itu karena pikiran saya saat itu sedang banyak terbagi untuk hal-hal lain sampai akhirnya saya malah mengabaikan perasaan kekasih saya nun jauh di sana.

Pokoknya saat itu rasanya saya mau nangis saja sampai keluar pop ice rasa vanilla blue –biar nangisnya sedikit enakan. Huhuhu~

Sebentar ya, saya disuruh ke warung sama ibu saya untuk beli kecap. Yawla ibu gatau apa ya saya lagi sedih gini malah disuruh beli kecap. Jadi makin sedih 🙁

Bulan Agustus, akhirnya saya terpaksa mengikuti kemauan ibu. rumah saya beserta warungnya, saya kontrak-kan kepada sepasang suami istri. Sejujurnya saya tidak rela, tapi terpaksa, untuk memenuhi kebutuhan rumah. Dan sekarang suami-istri tersebut menerusi usaha warung saya.

Saya pun kembali tinggal di rumah dan menempati kamar bekas almarhum ayah saya yang semenjak ayah meninggal memang tidak ada yang menempati.

Sampai pada akhirnya di bulan November, saya mendapatkan sebuah pekerjaan di salah satu perusahaan di daerah Jakarta Pusat sampai sekarang. Sejujurnya saya merasa sedang berada di tempat yang bukan ‘dunia’ saya saat ini, karena jadwal pekerjaan yang padat dan jarak kantor yang lumayan jauh dari rumah, maka setiap pulang kerja harus larut malam dan hampir tidak ada waktu untuk sekedar menulis untuk blog ini atau bahkan melakukan sesuatu yang saya sukai seperti menggambar atau malah ngetwit pun saat ini saya jadi jarang. terlalu memikirkan pekerjaan membuat otak saya menjadi miskin ide. Huft~

Tapi dengan keadaan yang sekarang, sepertinya untuk sementara memang harus ada yang saya (terpaksa) korbankan.

Lyfe~

Ah tapi lo di twitter kelihatan biasa-biasa aja bang?

Itu karena memang saya dari awal tidak mau menjadikan twitter sebagai saya sebenarnya; in real life. karena buat saya twitter adalah sebuah alter ego, tempat untuk saya bersenang-senang, tempat untuk saya berkomunikasi dan mengenal orang lain secara luas.

oleh karena itu, jika kemarin sempat ada yang menyerang saya dengan beberapa akun anonim dengan menjelek-jelelan saya dari berbagai macam celaan dan hinaan kepada saya, saya tidak minat untuk menggubris, ya buat apa? Masih banyak hal berguna lain yang bisa saya lakukan daripada meladeni akun-akun tersebut.

lagipula jika boleh saya memberikan suatu pembelaan mengenai konten dari twitter saya yang ‘mereka’ tidak suka dan hina-dina, mungkin saya hanya akan mengutip satu buah kalimat yang berasal dari seorang motivator terkenal yang tidak ingin disebutkan namanya, yang berbunyi:

“Twitter aing kumaha aing”.

Gak penting banget mikirin begituan~

Dan saat ini sudah sampai pada tahun yang baru, 2016. Mungkin basi jika saya bilang waktunya untuk ‘berubah’ kepada diri saya yang selalu dengan sendirinya menjilat ludahnya sendiri.

Oleh karena itu, saat ini mungkin resolusi saya untuk tahun ini adalah menebus segala ‘kesia-siaan’ yang sudah saya lakukan di tahun 2015 dan akan saya usahakan untuk tidak terulang lagi.

Insya allah~

semoga tuhan menghendaki niat saya.

anyway, selamat tahun baru ya teman-teman~~

14 comments on “RESUCKLUSI”

  1. Atuhlah akaang sini pukpuk dulu. Tetep berkarya yaa, sesibuk apapun itu. Positive aja, Alhamdulillah, masih dikasih kerjaan. Semoga nanti modal untuk segala keperluannya bisa kembali dan In shaa Allah dapat lebih. Salut ih sama kakang. Tanggung jawabnya besar sa keluarga. Jarang-jarang anak cowok kayak gini. Hehehehe. Itu si mama malah nyuruh beli kecap di tengah-tengah postingan. Hahaha.

  2. Kita resmi memutuskan tali persahabatan. Waduhhhh, cuma karena uang jadi begini. Hahaha. Lyfe~ :))

    Oh, itu yang temen lu nyolong, ceritanya yang gue denger di warteg pas gue maen ke kantor lu ya, Kay? Semoga rezekinya diganti sama Tuhan menjadi lebih banyak. Aamiin.

    Sukses, Kay! Mari berkarya di 2016.
    Akhirnya bisa baca cerita di blog ini. Uhuy. Udah nggak kena saspen.

  3. Udah agak lama nggak mampir sampoan disini. Sekalinya mampir langsung dihadapkan sama tulisan-tulisan Ntaps nya mas kay.
    Semangat mas kay, pokoknya mas kay… *sebentar ya mas kay, disuruh beliin kecap dulu sama ibuk. yawla ibuk nggak tau apa ya ini anaknya lagi mau komentar* :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *