“Gue senang mengoleksi kenangan,

Karena, mengenang adalah hal yang mengasyikan”


Sabtu, 21 Maret 2015.

Hari ini gue melakukan kegiatan yang sudah direncanakan kurang lebih dari dua minggu lalu. kegiatan yang selalu ditunda dengan kalimat “ntar aja deh, abis ini.”, Yang nyatanya ‘abis ini’ tuh gak pernah ada. Karena setelah ‘ini’ akan selalu ada ‘ini ini dan ini’ yang lain yang sepertinya gak habis-habis. Kalaupun dalam sehari ada ‘ini’ yang habis, pasti akan tertunda lagi dengan kata “besok aja deh.”, terlalu banyak melakukan ‘ini’ nyatanya bikin capek.

Dan pada hari ini, gue berencana melakukan ‘ini’ yang sudah lama ditunda tersebut. Ya, hari ini gue mau beres-beres kamar. memberesi barang-barang yang ada dikamar lama untuk gue pindahin ke kamar yang baru. seperti yang gue tulis di bulan Februari lalu, kini rumah gue sudah bisa ditempati, belum terlalu layak mungkin, tapi cukuplah untuk gue tempatin sendiri. Iya, sendiri. aelah.

Di kamar lama gue memang banyak barang yang (sebenernya) sudah enggak terpakai lagi. Sebagian ada yang gak sengaja ke simpan dan menjadi sampah, tapi sebagian lagi memang sampah yang sengaja gue simpan. Oleh karena itu banyak yang harus dipilah-pilih.

Jam 10 pagi, Gue mulai beres-beres. Dimulai dari lemari buku (lebih tepatnya sih bukan lemari, yah pokoknya semacam tempat menaruh buku-buku gitu deh). Barang-barang gue memang banyak gue taruh disitu.

Sekedar informasi: lemari buku gue ini ada 3 deret. Deret paling bawah isinya buku-buku yang masih sering gue baca. Deretan tengah gue isi sama buku-buku lama yang sudah jarang dibaca, buku binder file jaman sekolah, majalah-majalah lama dan lain-lain. Dan dideretan paling atas berisi beberapa kotak berbagai ukuran, kotak yang gue juga lupa isinya apa aja.

Pertama, Gue beresin deretan yang paling bawah—deretan buku yang masih sering gue baca. Pada bagian ini gue dengan cepet beresinnya, karena gak ada lagi yang perlu dipilah-pilih, semuanya memang masih gue pakai (baca) sehingga tidak memakan banyak waktu buat ngeberesinnya. Setelah deretan pertama selesai, gue mulai bingung, mau beresin deretan yang mana dulu. deretan yang tengah, pasti bakal banyak ngabisin waktu karena banyak buku dan lembar-lembaran kertas binder yang tercecer yang pastinya masih harus gue pilah mana yang harus gue simpan, mana yang mesti gue buang. Gue mengalihkan pandangan, melihat kotak-kotak yang ada dideretan paling atas, kemudian gue bingung juga. Tapi kali ini bingungnya beda, gue melihat lagi beberapa kotak ukuran sedang, ada yang dari kardus dan beberapa dari terbuat dari kaleng bekas biskuit. kemudian gue mikir “kotak-kotak itu isinya apa ya? Gue nyimpen kotak-kotak kayak gitu dulu buat apa?”. Gue seketika inget kata-kata yang tokoh Cobb di Film ‘Following’ karya Christoper Nolan pada Tahun 1998, “Setiap orang punya Kotak.” Seperti yang sedang gue lihat sekarang, gue juga punya kotak, banyak, tapi gue gak tau yang mana ‘kotak’ punya gue.

Rasa penasaran tentang pertanyaan ‘Kotak mana yang punya gue?’ pun membuat gue memutuskan untuk beres-beres deretan paling atas dulu.

Dimulai dari kotak kardus warna coklat yang berada paling tepi, gue buka dan gue lihat isinya, ternyata isinya adalah kertas-kertas, bermacam-macam. Ada kertas strip gaji jaman gue kerja kapan tau, ada juga buku panduan waktu gue pernah terjebak di bisnis MLM, dan ada juga lembar kartu nilai waktu gue ikut test Bahasa Inggris di SMA. Gue ketawa kecil, gue jadi inget lagi masa-masa dimana gue lebih banyak bodohnya daripada pinternya. Entah, gue merasa hal-hal bodoh itu jadi lucu.

Kotak kardus pertama selesai, gue lanjut ke kotak kardus warna putih, ukurannya gak beda jauh sama kotak kardus coklat tadi, Cuma jauh lebih berat ketika diangkat. Ketika gue buka ternyata isinya adalah handphone-handphone bekas yang udah rusak, handphone-handphone jadul jaman gue mulai bisa beli handphone sendiri dari hasil kerja. Gue emang selalu kayak gitu, gue gak pernah jual handphone, handphone yang gue punya biasanya gue pakai sampai rusak dan gak bisa dibenerin lagi. Seperti handphone yang sekarang gue pakai (Asus Zenfone4) layarnya sudah pecah karena jatuh dari atas meja laptop, tapi beruntung LCDnya gak apa-apa dan masih bisa digunain, jadi ya masih gue pakai sampai sekarang. Gue orangnya memang gak pernah sih berusaha mengikuti jaman. ketika handphone yang ini lagi booming dan semua orang punya, gue tetap bertahan memakai handphone yang lama—meskipun rusak yang penting masih bisa dipakai.

Fyi aja, gue ini orang yang sangat telat dalam menggunakan smartphone. gue baru ngerasain punya handphone yang ada fasilitas bbm-nya pada awalan tahun 2014 dan itu jelas sangat telat sekali (orang-orang udah pindah ke android atau iOs) dan itu juga handphone blackberry gue punya dari pemberian, dikasih sama sepupu gue. Hehe.

Alesan gue gak terlalu peduli sama perkembangan gadget yang ada itu ada 2. yang pertama, gue emang gak terlalu suka mengikuti arus perkembangan gadget—karena gue sadar, perkembangan tekhnologi gak akan ada habisnya. Dan yang kedua, karena gue gak punya uang untuk beli. Hmm.. hilangin alesan yang pertama, karena yang kedua itu alasan yang lebih nyata.

Handphone-handphone bekas itu sengaja gue simpan, karena gue ingat bagaimana jerih payah gue saat itu buat ngebelinya. Penuh keringet man. Fyuh.

Lanjut ke kotak yang ketiga, kali ini kotaknya terbuat dari kaleng, agak berat dan lumayan agak susah dibuka. ketika gue buka dan melihat isinya, gue pun berkata dalam hati “Hmmm.. ternyata ini ‘kotak’ gue”. Gue melihat isi kotak itu dan berusaha menahan rasa penasaran untuk tau benda apa aja yang gue pernah simpan didalamnya. gue menahan diri sebentar, lalu gue ambil benda yang pertama yaitu binder file jadul yang sudah agak lusuh bentuknya, dengan sampul depan dan belakang bergambar style-style harajuku(saat itu gue menggilai style harajuku dan segala hal tentang jepang). Gue mulai membuka lembar halaman paling depan, gue senyam-senyum, tiba-tiba gue kayak ngerasa balik lagi ke jaman itu, ingetan gue pun seolah ikut memuda. gue ketawa dalem hati melihat tulisan-tulisan yang ada disana. Selayaknya binder jaman sekolah, banyak diisi dengan biodata teman-teman, gebetan, bahkan ada juga tulisan dari mantan. Curhatan-curhatan galau jaman sekolah yang gue tulis secara acak dan berantakan dan segala tetek bengek kenangan yang bikin gue makin senyam-senyum sendiri membayangkan betapa alaynya gue dan teman-teman gue kala itu. Lucu banget, Bikin gue mau ketawa ngakak.

Tapi kemudian, sampai pada tumpukan kertas yang gue temuin di selipan belakang gambar sampul terakhir, gue penasaran sama apa yang ada di selipan sampul belakang tersebut, gue bongkar selipannya dan gue menemukan sebuah foto lama. Foto gue sama mantan gue waktu SMA, gue mendadak diam. Gue melamun sambil tangan kanan gue memegang foto tersebut, tatapan gue kosong, dipikiran gue tiba-tiba penuh kilas balik cerita lama antara gue sama dia dulu, ingatan-ingatan tentang dia keluar begitu saja tanpa bisa gue cegah:

2 tahun 8 bulan pacaran (4 bulan lagi cicilan lunas), seorang mantan yang hubungannya sempat baik sebelum sebuah kesalah pahaman membuat kita merasa tidak saling mengenal satu sama lain. Dia adalah seorang pacar dan juga teman ketika gue belajar bandel jaman sekolah, cabut bareng, berantem di sekolah, pacaran di aula, di setrap guru berdua karena telat, pulang bareng jalan kaki pas kebetulan gue gak bawa motor, ditilang polisi karena gak pakai helm, batal puasa bareng, dimarahin bapaknya karena gue minta temenin ngeband sampe telat pulang kerumah dan masih banyak lagi cerita-cerita gue sama dia.

Hhh..gue memasang senyum lebar, mengingat semua itu rasanya menyenangkan. Yaa..meski beberapa dari cerita yang berhasil keluar menimbulkan sedikit rasa getir dihati, Tapi gue menikmatinya, sungguh. mungkin, seperti itulah rasa asiknya mengenang.

Jpeg

Dan ketika gue lagi menikmati lamunan itu, tiba-tiba nyokap gue negor dari belakang. Membuyarkan semua lamunan gue.

“Ky, itu sampah-sampah dibuangin aja napa. menuh-menuhin lemari aja.” Kata nyokap gue.

Gue diam.

“Lu sama kaya Ayah si, demen banget nyimpen sampahan!” lanjut nyokap gue lagi.

Gue menghela nafas dalam, menahannya sejenak didada dan menghembuskannya.

“Iya Ma, ini lagi dipilihin dulu” jawab gue, kalem.

Gue masukin foto itu ke dalam kotak dan menutupnya, Kemudian melanjutkan pekerjaan membereskan lemari sambil berkata dalam hati…

“Ini adalah kumpulan sampah-sampah yang berharga.


Mungkin buat Nyokap, semua benda-benda ini adalah sampah, barang bekas yang tidak terpakai dan tidak ada harganya lagi, keberadaannya hanya membuat sumpek rumah dan lebih baik jika dibuang saja atau dibakar. tapi enggak buat gue, gue menganggap semua tumpukan ini adalah benda yang ‘berharga’.

Selayaknya Bokap, dia juga seorang yang senang menaruh dan menyimpan semua hal atau benda apa saja yang menurut dia masih harus disimpan. Pernah suatu ketika gue tanya alasan kenapa Bokap masih menyimpan benda-benda tersebut, ia menjawab “Siapa tau nanti berguna.”.

Dengan alasan yang sedikit berbeda tapi sepertinya artinya sama dengan alasan bokap. Alasan gue menyimpan semua benda-benda tidak jelas;kertas strip gaji, buku panduan MLM, handphone rusak, ceceran lembar-lembar binder dan lain-lain ini adalah “Gue hanya seorang yang senang mengoleksi kenangan dan buat gue, mengenang adalah hal yang mengasyikan.” Itu saja.

Beberapa benda simpanan Bokap, menurut gue adalah sampah dan harus dibuang, tapi enggak buat bokap, Beberapa benda simpanan gue, menurut Nyokap adalah sampah dan harus dibuang, tapi enggak buat gue. Tapi lain hal dengan semua benda simpanan nyokap, hampir semuanya barang yang memang masih dipakai. kalo gue buang, bisa-bisa besoknya gue yang dibuang.

🙁


Gue tutup tulisan ini dengan mengutip sebuah paragraf dari Novel “KAMU; Cerita yang tidak perlu dipercaya” Sabda Armandio.

“Mengenang sesuatu sepertinya menarik, lagi pula mudah, ada banyak cara asik untuk memulai: tendanglah kardus berisi barang-barang lawasmu, ambil salah satu benda yang tergeletak di lantai, benda apa saja, dan biarkan ia bercerita. Atau begini: Jilat bersih sendok bekas makan, pandangi agak lama dan sebuah cerita bisa kembali begitu saja—seperti pria ramah yang mengetuk jendela kamarmu dan berkata, “Ya, ini saatnya membuka jendela.”

(hal 23, Bab: Jejak Dari Masa Yang Amat Lampau)

Mari mengenang 🙂

@shamposachet

13 comments on “SAMPAH-SAMPAH YANG BERHARGA”

  1. Gue berasa ngebaca cerita sendiri yang ditulis ama orang lain. :’)
    *bisa mirip gini*

    Kalo lagi pulang kampung, gue nggak pernah lupa buat ngebongkar isi kotak. Ya buat mengenang-mengenang doang sih. Tapi entah mengapa itu selalu indah. Pernah pas balik kampung lebaran 2 tahun lalu, salah satu kotak gue ilang, dibuang dan isinya ada yang dikasih ama anak-anak tetangga. di situ berasa kehilangan banget.

  2. Lah ini seriusan gue belum komen? perasaan udah deeeh. 😮
    Berarti lo keturunan bokap ya? gue kadang kalo yang kayak gitu suka dilema, antara sebel pengin buang karena menuh-menuhin tapi sayang. Hehehe.

  3. Ngggg…. Panjang banget, Bang. Cerita tentang kenangan begitu mewakili pikiran dan perasaan gue. Hehe.

    Sama. Gue juga suka mengoleksi. Masih banyak kotak-kotak yang belum dibuka. Entah, ada kejutan apa di dalamnya. Hahaha.
    Foto mantan zaman sekolah, ya? Jadi inget zaman bandel-bandelnya. Jam pelajaran malah pacaran di perpus. :/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *