“Suatu hari nanti, Kamu akan tahu satu hal berat yang harus dialami seorang laki-laki.”

Katamu kepada seorang anak ingusan, yang jangankan untuk berlari, merangkak saja masih sering jatuh.

Anak laki-laki kecil ingusan itu tumbuh, merangkaki waktu-waktu sulit dengan mudah. Belum. memang belum saatnya untuk anak ingusan itu memahami arti waktu yang sulit dengan sebenar-benarnya.

Anak kecil itu kini sudah dapat berjalan, meniti kakinya perlahan di jalanan yang datar, kemudian sedikit merasa sombong, mencoba untuk memaksakan kakinya yang belum tegap benar itu untuk berlari. Ia terjatuh. Tapi saat itu masih ada kamu yang membantunya untuk berdiri kembali.

Anak kecil dengan segala kesombongannya itu terus berusaha berlari. Berkali-kali ia jatuh dan berkali-kali juga kamu membantunya berdiri. Begitu seterusnya.

Hingga sampai pada suatu ketika…

kamu yang saat itu tak lagi mampu mengangkat tubuh anak ingusan sombong yang sering jatuh akibat belajar berlari itu, merasa perlu memberikan sebuah pelajaran, sebuah arahan, tentang bagaimana cara berlari yang baik agar tidak perlu jatuh berkali-kali.

Namun memang dasar kesombongan yang telah lebih dulu tumbuh pesat di kepala si anak ingusan itu, membuat si anak tetap bersikeras tak mau mendengarkan. Telinganya sengaja dibuat tuli saat kata-kata arahan disematkan dari kamu kepadanya.

Sampai akhirnya…

kamu benar-benar pergi, tak ada lagi orang yang membantu sang anak berdiri, tak ada lagi orang yang memberi arahan kepada si anak.

Anak itu kini sendirian, terjatuh, tersungkur, terpelanting di jalanan. Tanpa ada kamu lagi yang membantu berdiri. kakinya hampir melemah karena seringnya ia terjatuh.

Lalu, anak itu mulai sedikit sadar dan mengingat satu kalimat yang pernah diucapkan kamu dulu, saat ia masih belajar merangkak.

“Suatu hari nanti, Kamu akan tahu satu hal berat yang harus dialami seorang laki-laki.”

Anak itu menangis, sekeras-kerasnya ia bisa, berteriak hingga kerongkongannya gatal dan serak. ia memaki kesombongannya sendiri.

Anak itu, kini enggan memaksakan kaki rapuhnya untuk berlari, anak itu memilih untuk berjalan. Berjalan sambil mencoba memahami dan mencari arti dari kalimat kamu, tentang satu hal berat yang harus dialami seorang laki-laki.

Sampai saat ini…


tulisan ini juga di post di aloneliner.wordpress.com

20 comments on “SATU HAL BERAT”

  1. Pas gue baca gue ngeraca is anak laki-laki itu seorang anak yang dibesarkan oleh ibu nya tapi dia gak mau dengerin nasihat dari si ibu. Hingga suatu ketika ibu nya pergi (meninggal maksud nya) baru lah si anak menangisi diri nya sendiri.

    Itu sih menurut gue.
    Imajinasi orang untuk mengartikan sebuah tulisan berbeda-beda bukan?

  2. Abis gue bingung mau panggil apa kalo manggil kay tar sok akrab. Panggil sayang tar gue dilempar tampah beras. Wakak

    Tumblr gue bagus? Ah saaje!

    Yoga : Yog ngapain disini? Kalo cowo jatah gueee. Hussshh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *