TENTANG SAYA DAN DILAN

Saat ini, mungkin euphoria “DILAN” dan filmnya suda mulai sedikit surut. Tapi justru ini waktu yang tepat untuk saya bercerita mengenai saya dan DILAN, juga pengalaman menonton filmnya. Tujuannya agar supaya… tida apa-apa he he~

Jika bole, saya ingin bercerita terlebih dulu awal saya menyukai karakter “DILAN” dan tentunya sang penulis, Ayah Pidi Baiq.

(Sebenarnya bole tida bole saya akan tetap bercerita sih~)

Jadi, pada awalnya saya adalah orang yang menolak membaca novel DILAN. Hal itu karena, saya melihat novelnya selalu ada di rak Best Seller di semua toko buku. Entahlah, saya selalu –sotoy- mencoba untuk tida membaca buku yang sama seperti yang dibaca sama orang-orang kebanyakan.

Iya kamu bole menyebut saya orang yang so-banget-anjir. tapi ya saya memang gitu~

Lagi juga ketika saya tahu bahwa yang menulis Novel tersebut adalah ayah Pidi, saya semakin tida ingin membacanya. Karena sejujurnya, saya pernah membeli buku ayah yang judulnya ‘Drunken Master’, dan saya tida terlalu suka. Novel tersebut hanya saya baca beberapa halaman saja, lalu saya tinggal di rak buku di kamar saya, sampai sekarang.

Jadi, ekspektasi saya di novel DILAN akan sama saja hasilnya dengan buku Drunken Master tersebut. Makanya saya tida mau membeli novel DILAN.

Tapi kemudian, saya melihat di sosial media sedang ramai membicarakan sosok Iqbal ex-CJR yang dipilih oleh Ayah Pidi Baiq sendiri untuk memerankan tokoh DILAN . Lalu saya kepo, dan saya mencoba mencari infonya di Youtube.

“Kenapa sih netyzen ribet banget, kalo Iqbal yang jadi DILAN emangnya kenapa wey?!” pikir saya.

Yang kemudian dari beberapa video yang saya tonton. Saya menemukan video yang membuat saya “jatuh cinta” kepada Ayah Pidi Baiq dan langsung tiba-tiba menjadikan dirinya sebagai panutanq.

Berikut videonya kalau kiranya kamu mau menonton juga:

Di video itu, saya melihat kecerdasan seorang Pidi Baiq dalam merangkai kata-kata, pemilihan diksi yang keren sampai bisa jadi lucu, lucu yang cerdas-banget. Dan saya suka.

Selesai hari itu, malamnya saya pergi ke toko buku, dan membeli buku DILAN yang pertama “DILAN, Dia adalah Dilanku Tahun 1990”.

Sampai di rumah, saya langsung membaca novel tersebut. Dan ya, perasaan saya saat membaca novel tersebut adalah ‘ingin-membaca-terus-sampai-habis-tapi-sayang-kalo-ceritanya-harus-cepet-selesai’, Nah, kira-kira seperti itu rasanya. Mungkin menurutmu saya terlalu berlebihan, tapi menurut saya yang terlalu berlebihan adalah dandanan Syahrini.

Maaf, kita beda sudut pandang.

Kemudian beberapa bulan setelahnya, saat saya merayakan ulang tahun pada September 2017 lalu. Rezza Novita (My-Bae) memberikan saya hadiah seri lengkap Novel DILAN; “DILAN, Dia adalah Dilanku Tahun 1991” dan “Milea, Suara dari DILAN”.

Dia memang tahu apa yang sangat saya inginkan waktu itu. ehe~

Menurut teman saya yang sudah membaca semua seri-nya, buku DILAN yang ke-Dua tidak terlalu ‘seru’ seperti buku pertama. Tapi menurut saya, meskipun memang lebih baik buku pertama, tapi buku ke-dua tetap menarik untuk saya baca dan saya tetap suka.

Ya.. seperti itulah kira-kira sejarahnya kenapa dan bagaimana saya bisa ‘mengenal’ dan ‘menyukai’ karakter DILAN dan pastinya sang penulis, Ayah Pidi Baiq.

Dan saya mungkin satu dari ribuan orang yang menunggu-nunggu penasaran akan hasilnya seperti apa jika novel DILAN difilm-kan.

Tanggal 25 Januari, film DILAN hadir di bioskop. Tapi saya tidak langsung menonton pada hari itu. saya memilih menontonnya di tanggal 29 Januari-nya, tepat di hari ulang tahun pacar saya. Jadi, dia yang bayar tiket nontonnya. Hehe~ Ya, soalnya kan dia yang lagi ulang tahun. Saya minta traktir, lah!

Awalnya kami ingin menonton di Bioskop Mall Bintaro Plaza. Tapi demi Tuhan, semua bangku sudah penuh, sekalipun ada sisa, itu Cuma 5 (kalo gak salah) dan kalau saya paksain nonton juga, saya akan pisah tempat duduk sama si pacar.

Lah nonton bioskop barengan tapi duduknya misah-misah, yang satu duduk di tengah kayak lapangan olah raga SD Jatiwaringin XIII, yang satu lagi di pinggir kayak acar! Kaga enak!

Kami berusaha mencari bioskop lain terdekat, akhirnya kami memilih Lotte Mart, Bintaro. Namun waktunya juga suda mepet. Kami ngebut dari parkiran motor Bintaro Plaza ke Lotte Mart. Sampai di depan Mall, saya meminta pacar saya turun duluan untu beli tiket, sementara saya mencari parkiran motor.

Saling bekerja sama untu~ ya biar gak kehabisan tiket lagi.  Dan  Alhamdulillah, akhirnya kami dapat juga tiket nonton. Ngebutnya kami tida sia-sia.

Dilan.. sir tribun news Dan Milea Nature Sejahtera 🙁

Setelah menonton, saya merasa sangat ingin menceritakan perasaan saya tentang film “DILAN” dari sudut pandang saya sendiri. Maaf jika mungkin kesannya spoiler, tapi ini hanya menuliskan beberapa hal yang saya merasa perlu menceritakannya saja. Dan jika kamu tida suka, sebaiknya sudahi sampai sini saja hubungan kita bacanya. tutup browsernya, lalu buka aplikasi gofood untuk pesan makanan di grabfood. Ya, siapa tahu kamu laper.

HehepaansiKay!

FILMNYA BAGUS!

Mungkin itu kalimat awalan sederhana yang baik untuk mulai menceritakan perasaan saya akan film sederhana yang tidak sederhana ini.

Cerita yang ringan, konflik yang sedikit, dan ya gitu-gitu aja sih seperti bagaimana cerita anak SMA yang saling menyukai seperti biasanya. Tapi yang bikin film ini terasa ‘aneh’ adalah setiap sosok DILAN muncul, ada ‘emosi’ tersendiri yang ikut muncul juga dari diri saya. Padahal si DILAN-nya lagi b aja gitu (tida lagi marah, tida lagi gombal, atau tida lagi caper-caper ke Milea) tapi tetap aja ada ‘sesuatu’ yang keren gimana gitu rasanya.

Cuma memang, kesempurnaan hanya milik mild (sempurna mild hhhh~). Di Film ini ada sedikit hal yang menggangu saya, sedikit sih. Yaitu ketika scene sekolah DILAN diserang oleh geng motor; scene batu kelempar kena kacanya itu kaku dan keliatan-banget editannya. Mestinya kan bisa dicari batu yang bisa acting lebih dari itu, jadi nanti pas kelemparnya terasa lebih natural. Hmm…

Tapi beneran kok, editan scene batu kelempar itu menganggu buat saya.

Sama juga halnya ketika scene Milea dan Bunda mengobrol di dalam mobil. Itu editannya sangat-sangat kelihatan. Pemandangan di luar mobil yang bergerak itu juga terlihat aneh. Entahlah hal itu disengaja atau tidak, padahal kalau memang dishoot beneran sedang naik mobil (tanpa green screen, gitu) sepertinya akan lebih terlihat real dan nyaman aja nontonnya.

Kemudian satu lagi juga, (mohon maaf kalau kadang saya terlalu detail untuk melihat sesuatu). Karena tulisan tangan DILAN ketika di surat atau di puisi yang ditulisnya di buku, berbeda dengan tulisan DILAN ketika menulis di kertas yang Ia minta dari Milea untuk menuliskan nama-nama orang yang menyukai Milea;yang semuanya Ia coret, kecuali namanya sendiri–.

Itu hal yang sangat kecil memang, tapi itu mengganggu saya. Maaf ya Ayah~

Tapi, acting semua karakter tetap bagus, kecuali Airin (adiknya Milea) yang menurut saya memang masih terlihat agak kaku apalagi pas scene ketawa setelah Milea ngenalin si Bunda sebagai “calon mertuanya’. kemudian juga gaya berdandan Wati yang sangat ‘Anak SMA jaman NOW’ yang gak 90’an banget, terutama di bagian gaya rambut.

Tapi, Watinya cantik, aku tetep suka uwww~

Iqbal yang awalnya diragukan bisa memerankan tokoh DILAN, justru menurut saya actingnya cukup bagus untuk jadi DILAN. Ditambah sosok Milea yang memang sudah lebih dahulu muncul ke publik, yaitu Vanesha-Ya-Tuhan-Lucu-Banget-Anak-Ini-Prescilla. Menurut saya keduanya bisa memerankan dengan baik karakter dua tokoh anak sekolah yang jatuh cinta, saling melengkapi sebagai pasangan yang menjalani kisah yang lucu nan gemas, khas cinta-cintaan jaman SMA, tapi tetap gak norak.

Suda, itu saja sih, sisanya kamu tonton sendiri saja ehe~  tida spoiler kan?!

Oia saya ingin berbagi sedikit tips untuk kamu pembaca buku DILAN (yang mungkin) belum nonton dan ingin nonton.

Gini..

Tontonlah film ini dengan membayangkan bahwa DILAN yang ada di film bukanlah Iqbal, tapi bayangkan bahwa DILAN yang di film itu adalah DILAN yang ada di imajinasimu. Karena saya-pun melakukan hal tersebut.  Karena menurut saya, kontroversi yang timbul waktu Iqbal dipilih sebagai sosok DILAN adalah karena Iqbal bukan seseorang yang kamu –pembaca novel DILAN– bayangkan sebagai seorang DILAN.

Oleh karena itu, saya sarankan untuk menonton dengan membayangkan bahwa sosok DILAN adalah DILAN yang ada dipikiranmu. Itu akan lebih ‘memuaskan’ imajinasimu akan sosok DILAN. Karena nyatanya ada beberapa orang teman saya yang menolak untuk nonton film ini dengan alasan takut imajinasinya akan sosok seorang DILAN jadi hilang atau berganti menjadi DILAN yang seorang Iqbal.

Tapi, beruntunglah untuk orang-orang yang memang bukan atau belum membaca Novel DILAN. Karena kamu akan banyak dikagetkan dan dibuat gemas dengan semua tingkah laku dan kata-kata, juga ‘gombalan’ yang DILAN lakukan di filmnya.

Kenapa?

Karena itu saya alami sendiri. Jadi, ketika saya nonton kemarin, di depan saya persis satu deret adalah cewek-cewek (mungkin seumuran anak SMA) dan banyak penonton lainnya yang heboh-heboh-gemas sendiri saat DILAN bicara, bahkan beberapa dari mereka ada yang teriak “Uwwwwwhhh~~” ketika DILAN sedang menggombali Milea. Berasa lagi digombalin sama Iqbal gitu kali ya. Sementara, saya dan pacar saya (yang memang suda membaca bukunya) cuma senyum-senyum aja, karena kita suda tahu kata-kata gombalan itu. Jadi efek ‘kaget’nya tidak terlalu terasa.

Makanya, ketika teman saya bertanya “Apakah film DILAN bagus? kalo bagus gua mau nonton nih!”, saya akan balik bertanya “Lo udah baca bukunya atau belum?”. Kalau dia jawab sudah, maka saya sarankan lakukan hal yang pertama, tapi kalau belum, dan berniat mau meminjam bukunya dulu ke saya, maka saya sarankan lebih baik untuk nonton dulu filmnya baru baca novelnya. Karena kalimat-kalimat ‘sakti’ DILAN di film ini hampir sama dengan cerita yang ada di novel.

Sepertinya segitu saja yang harus saya ceritakan, maaf jika ada yang kurang atau malah tida berkenan, karena ini memang semua berasal dari pendapat pribadi saya, menurut saya dan yang saya rasakan sebagai yang sudah membaca 2 Novelnya (dan sekarang sedang berusaha menamatkan novel “MILEA, Suara dari DILAN”).

Kurang lebihnya saya minta maaf dan kalau bisa minta naikin gaji 20% aja deh jangan banyak-banyak gapapa~

And, the last. In my humble opinion, film DILAN bole ditonton jika kamu mau, karena film ini bukan Cuma sederhana, keren dan bagus, tapi juga ‘kuat’.

Saya jadi mau nonton lagi, Rindu~

sedikit karyaku untuk DILAN dan MILEA juga Ayah Pidi Baiq

.

.

My regards~

-Kay

Comments (8)

  • Bay Sulistiani / 10 February 2018 / Reply

    SEPEMIKIRAN SEKALI YHA ~

    • (Author) Rizky Exa Mardiansyah / 10 February 2018 / Reply

      Kalo gitu bole kita tos~

  • Sari magdalena / 10 February 2018 / Reply

    COOL .

    • (Author) Rizky Exa Mardiansyah / 10 February 2018 / Reply

      tos jangan?

  • Alfi / 10 February 2018 / Reply

    Jadi,, kira” rate berapa dari 10 bg kay?

    • (Author) Rizky Exa Mardiansyah / 12 February 2018 / Reply

      menurut saya si untuk rate, 8 lah. itu menurut saya, km bole tida setuju ~

  • Rezza Novita / 12 February 2018 / Reply

    aku ramal, nanti kita akan bertemu di~~

    • (Author) Rizky Exa Mardiansyah / 12 February 2018 / Reply

      di pohon~

Add comment